Sepak Bola Dan Putu Soppa’

0
11

Sepak Bola Dan Putu Soppa’

Oleh: Suf Kasman

DEMAM Piala Dunia 2026 menjangkiti warung kopi hingga sudut kampus. Jutaan pasang mata lintas usia dan profesi mendadak jadi pengamat dadakan.

Semua merasa berhak berkomentar. Anak-anak mengulas laga, remaja angkat bicara, dewasa melempar analisis. Laki-laki, perempuan, hingga kaum calabainisasi pun larut dalam perbincangan.

Semalam saja, semua mendadak lebih paham taktik dibanding pelatih elite Eropa. Saat tim jagoan kalah, hujatan banjir bandang. Proses, kualitas lawan, hingga faktor keberuntungan mendadak tak berarti.

Saya bukan penggila bola. Saya justru lebih menikmati tingkah polah penonton ketimbang dramatisasi di lapangan.

Momen itu tertangkap mata sepulang dari Silaturahmi Nasional DDI di Pondok Pesantren Kaballangan, Pinrang.

Langkah saya terhenti di Lalle’ Macorawalie. Aroma gurih parutan kelapa dan manisnya pandan yang mengepul dari kukusan, menusuk hidung dari pinggir Jalan Jenderal Sudirman.

Putu soppa hijau daun pandan itu seketika menyihir mata saya untuk singgah.

Biasanya kuliner tradisional ini hanya putih atau hitam. Kini variannya bertambah, mungkin esok ada putu warna biru metalik atau silver titanium.

Saya memilih pojok gardu sederhana di pinggir jalan. Berharap aman dan tak terdeteksi radar pengintai siapa pun.

Celaka kalau Kanda Latif Salama’ sang pengader saya lewat, atau Rizal Rizang kawan sekelas di pesantren dulu singgah, “hancur reputasi”, bisa kena sidang pleno di meja putu. Ai masiri’na!

Sialnya, belum sempat suapan pertama putu pella mendarat, rombongan bapak-bapak datang menyerbu. Ada yang wajahnya lesu, mirip pasien baru keluar dari RSUD Lasinrang.

Tim jagoan mereka baru saja tumbang. Bukan sekadar kalah, tapi baginya mappakasiri’-siri’.

Begitu akumulasi putu pella tersaji, logika mereka ikut korslet. Kudapan panas yang harusnya dikunyah anggun, langsung di-smackdown tujuh batang putu sekaligus ke dalam mulut. Persis orang kelaparan sepekan akibat turnamen sepak bola dunia FIFA.

Kisah duka nonton bareng pun tumpah. Ada yang kehilangan uang taruhan Rp50.000, ada yang merelakan dua rak telur ayam pindah tangan. Ayamnya tetap di kandang, telurnya pindah kubu.

Di tengah nestapa itu, ibu penjual putu di depan saya menjelma jadi gelandang tengah. Berkali-kali ia mengoper putu pandan ke piring saya. Terus-menerus tombonisasi.

“Kutambahkan ki’, Pak Na.”

Saya tak kuasa menolak operan mautnya. Na dotika’ kapang!
Di akhir laga meja putu pella, piring saya menang telak, tapi dompet jebol membawa kartu merah. Melo’ mopo!

Sepanjang jalan pulang ke Makassar, sebuah tanya mengusik: mengapa negeri sebesar ini masih sulit menembus panggung dunia?

Persoalannya bukan karena kita miskin bakat, melainkan miskin kesabaran merawat talenta.

Pembinaan bola kita persis cara bapak-bapak tadi makan putu: ingin serba cepat, langsung natibo pada hasil, tapi enggan membangun fondasi.

Negeri ini surplus komentator, tapi krisis pembina. Suara tribun riuh, media sosial penuh petuah, sementara lapangan latihan lebih sunyi dari kolom komentar.

Sunnatullah mengajarkan, hasil besar selalu lahir dari proses. Prestasi tidak tumbuh dari euforia sesaat, melainkan dari kesabaran dan ikhtiar yang dirawat.

Di atas hamparan rumput, bola itu bundar. Hari ini kalah, esok ada waktu bangkit. Jabatan, gelar, dan kasta sosial tak pernah ikut mencetak gol.

Yang menentukan hanyalah kemampuan, kerja sama, dan akhlak. Maka fair play bukan sekadar aturan, ia adalah cerminan karakter.

Percuma menggenggam trofi dari hasil tipu daya. Kemenangan itu mungkin dipuji manusia, tetapi kehilangan nilainya di hadapan Allah.

Peluit panjang menyudahi laga. Begitu azan berkumandang, semua kembali merapatkan saf. Tak ada lagi pendukung tim A atau tim B.

Yang tersisa hanyalah hamba-hamba Allah, berdiri tegak menghadap kiblat yang sama.

Makassar, 09 Juli 2026 (SF)

ddi abrad 1