AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
SYEKH ABDURRAHMAN FIRDAUS DALAM SEJARAH PENDIRIAN DAN DINAMIKA INTELEKTUAL DARUD DA’WAH WAL IRSYAD
Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia kawasan Timur, khususnya di Sulawesi Selatan.
Sejarah berdirinya organisasi ini tidak lepas dari peran para ulama kharismatik yang membentuk konstelasi intelektual pada pertengahan abad ke-20.
Salah satu tokoh sentral namun jarang dikaji secara mendalam adalah Syekh Abdurrahman Firdaus, seorang ulama besar asal Makkah.
Makalah ini bertujuan untuk menguraikan biografi pengembaraan intelektual Syekh Abdurrahman Firdaus serta menganalisis kontribusi strategisnya dalam pendirian DDI, khususnya sebagai pencetus nama organisasi.
Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis-biografis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syekh Abdurrahman Firdaus bertindak sebagai jembatan jaringan ulama internasional (Makkah) dengan ulama lokal Bugis, pencetus nomenklatur “Darud Da’wah wal Irsyad” dalam musyawarah tahun 1947, serta mentor utama yang membentuk pemikiran pembaharuan kader ulama nasional seperti Prof. AGH. Ali Yafie.
PENDAHULUAN
Dinamika Islamisasi dan perkembangan institusi pendidikan Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-20 ditandai dengan lahirnya berbagai madrasah tradisional yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi modern.
Salah satu tonggak sejarah terpenting adalah berdirinya Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) pada tanggal 7 Februari 1947.
Organisasi ini didirikan oleh simpul utama ulama lokal, di antaranya AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, AGH. Daud Ismail, AGH Abd Muin Yusuf dan AGH. Muhammad Abduh Pabbajah.
Namun, di samping nama-nama ulama lokal tersebut, terdapat satu figur ulama transnasional yang memiliki andil sangat besar dalam peletakan fondasi nama dan arah gerakan organisasi, yaitu Syekh Abdurrahman Firdaus.
Beliau merupakan ulama migran asal Makkah yang memilih menetap di Jampue, Kabupaten Pinrang. Kehadirannya tidak hanya membawa pengaruh pengajaran kitab kuning, tetapi juga pemikiran pembaharuan dunia Islam.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan rekonstruksi historis mengenai biodata, warisan karya tulis, dan kontribusi konkret Syekh Abdurrahman Firdaus dalam rahim sejarah pendirian DDI.
– Tujuan Penelitian
1. Mengungkap latar belakang biografis, karya tulis, dan jaringan intelektual Syekh Abdurrahman Firdaus.
2. Menganalisis sumbangan pemikiran dan keterlibatan historis Syekh Abdurrahman Firdaus dalam institusi DDI.
PEMBAHASAN DAN URAIAN
A. Biodata dan Rihlah Ilmiah
Syekh Abdurrahman Firdaus lahir, tumbuh, dan menyelesaikan pembibitan intelektual awal di Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi.
Sebagai wilayah pusat keilmuan Islam global, Makkah mempertemukan beliau dengan khazanah klasik (kitab kuning) sekaligus gagasan pembaruan Islam.
Corak pemikiran keislaman beliau merefleksikan perpaduan antara kepatuhan pada tradisi fikih Mazhab Syafi’i dan keterbukaan terhadap arus modernisasi pendidikan dunia Islam.
Sebagai seorang ulama pengembara (rihlah al-’ilmiyyah), Syekh Abdurrahman Firdaus tidak memilih jalur menetap di tanah kelahiran.
Beliau melakukan ekspansi dakwah melintasi batas-batas negara, dimulai dari India, Filipina, hingga Malaysia.
Pola migrasi dakwah ini memperkaya perspektif beliau mengenai keragaman sosiologis umat Muslim di Asia.
Pengembaraan panjang tersebut berakhir di Nusantara, tepatnya di Jampue, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Di kawasan agraris ini, beliau membangun episentrum pengajian, berasimilasi dengan kultur Bugis, hingga akhir hayatnya wafat dan dimakamkan di Kota Parepare.
B. Dialektika Sosio-Kultural: Alasan Menetap di Tanah Bugis
Keputusan Syekh Abdurrahman Firdaus untuk menyudahi pengembaraan lintas negaranya dan memilih menetap di Jampue, Pinrang, didorong oleh faktor bertemunya visi keagamaan dengan karakter sosiologis masyarakat setempat.
Masyarakat Bugis memiliki falsafah hidup Siri’ na Pesse dan memegang teguh nilai Pangadereng (adat istiadat), yang ketika diintegrasikan dengan Islam, melahirkan kepatuhan yang tinggi terhadap institusi ulama.
Jampue pada masa itu merupakan wilayah strategis yang subur namun masih membutuhkan penguatan literasi syariat.
Kehadiran figur ulama asing asal Makkah (daerah pusat Islam) memberikan legitimasi spiritual yang kuat bagi masyarakat lokal.
Syekh Abdurrahman Firdaus melihat potensi sosiologis ini sebagai modal utama untuk mencetak basis peradaban Islam baru yang berbasis pesantren di wilayah luar pulau Jawa.
C. Analisis Semantik dan Filosofis Nomenklatur “Darud Da’wah wal Irsyad”
Kontribusi paling monumental dari Syekh Abdurrahman Firdaus terjadi pada sidang penetapan nama organisasi tanggal 7 Februari 1947.
Ketika forum dihadapkan pada opsi nama Nashrul Haq dan Al-Urwatul Wutsqa, gagasan beliau mengenai nama Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) dipilih karena keunggulan cakupan maknanya secara semantik dan teologis:
* Dar (Rumah/Kampung):
Melambangkan sebuah wadah, tempat bernaung, dan institusi yang memberikan rasa aman serta inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
* Ad-Da’wah (Ajakan/Seruan):
Mengindikasikan bahwa organisasi ini tidak boleh pasif atau hanya bergerak di dalam ruang kelas madrasah.
DDI harus keluar melakukan transformasi sosial melalui dakwah yang santun (bil-hikmah).
* Al-Irsyad (Petunjuk/Bimbingan):
Berorientasi pada fungsi edukasi, pemurnian akhlak, dan bimbingan keagamaan yang lurus (Ahlussunnah wal Jamaah).
Secara filosofis, nama ini dipilih sebagai bentuk tafa’ul (pengharapan baik) agar wadah ini mampu mengawinkan peran institusi pendidikan (madrasah) dan gerakan aksi sosial-keagamaan secara seimbang.
D. Dinamika Peran di Bawah Tekanan Geopolitik Pasca-Kemerdekaan (1947)
Proses lahirnya DDI bertepatan dengan periode paling kelam dalam sejarah revolusi kemerdekaan di Sulawesi Selatan, yakni aksi pembantaian massal oleh pasukan pimpinan Raymond Westerling (Belanda).
Kondisi geopolitik yang represif ini membuat aktivitas pengumpulan massa sangat dilarang.
Di sinilah peran taktis Syekh Abdurrahman Firdaus bersama AGH. Daud Ismail mengemuka.
Beliau memanfaatkan jaringan pengajian dan momentum kultural, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, untuk menyamarkan konsolidasi para ulama.
Diplomasi kultural yang diterapkan oleh Syekh Abdurrahman Firdaus berhasil mempertemukan simpul-simpul ulama dari berbagai daerah (Sulawesi Selatan dan Barat) ke Soppeng tanpa memicu kecurigaan intelijen militer Belanda.
Peristiwa ini membuktikan bahwa beliau memiliki kecerdasan membaca geopolitik perang.
E. Pembaharuan Metodologi Pembelajaran Kitab di Jampue
Di Jampue, Syekh Abdurrahman Firdaus melakukan dekonstruksi terhadap sistem pembelajaran tradisional yang monoton.
Pada umumnya, pesantren tradisional menggunakan metode sorogan atau bandongan, di mana santri hanya mendengarkan kiai membaca kitab.
Syekh Abdurrahman Firdaus memperkenalkan metode semi-modern yang diadopsinya dari luar negeri:
1. Pemberian Tugas Mandiri:
Santri diwajibkan memegang dan membaca teks kitab secara mandiri terlebih dahulu sebelum kelas dimulai.
2. Dialektika dan Pembedahan Tekstual:
Proses pembelajaran diisi dengan ruang diskusi interaktif, tanya jawab, dan debat ilmiah mengenai kontekstualisasi hukum fikih terhadap problem kemasyarakatan di Sulawesi Selatan.
Metode adaptif ini berhasil merangsang daya kritis para santri, yang kelak membuat alumni-alumni didikan Jampue memiliki ketajaman analisis hukum Islam yang moderat namun progresif.
F. Warisan Karya Tulis, Risalah, dan Tradisi Manuskrip Keagamaan
Sebagai ulama yang dibesarkan dalam tradisi literasi Makkah, Syekh Abdurrahman Firdaus tidak hanya mengajar secara lisan (syafahi), melainkan juga meninggalkan warisan berupa catatan tulisan.
Karakteristik karya tulis beliau memiliki keunikan tersendiri:
1. Risalah Fatwa dan Hukum Fikih Tematis:
Beliau banyak menulis risalah pendek (buku saku keagamaan) yang membahas problem fikih praktis di masyarakat, terutama untuk meluruskan praktik keagamaan lokal yang dinilai kurang selaras dengan syariat murni.
Teks ini ditulis menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu) agar mudah disalin.
2. Catatan Pinggir (Hasyiyah) dan Ringkasan Teks (Ikhtisar):
Syekh Abdurrahman Firdaus mewariskan kompilasi catatan pinggir (hasyiyah) pada kitab-kitab fikih Mazhab Syafi’i.
Beliau menyederhanakan penjelasan yang rumit menjadi ringkasan (ikhtisar) teologis.
Kumpulan catatan teks inilah yang kelak disalin ulang oleh murid-muridnya sebagai bahan ajar utama di lingkungan madrasah DDI tahap awal.
3. Keterbatasan Kodifikasi dan Faktor Geopolitik:
Sebagian besar warisan tulisan beliau tidak sempat dicetak secara massal menggunakan mesin cetak modern karena keterbatasan infrastruktur penerbitan di pedalaman Pinrang pada masa revolusi 1947.
Karya beliau sebagian besar berwujud lembaran manuskrip tulisan tangan (makhthuthat) yang disimpan secara personal oleh keluarga ahli waris dan jaringan pesantren.
G. Jaringan Kaderisasi: Pengaruh terhadap Pemikiran Fikih Sosial Prof. Ali Yafie
Sumbangsih non-fisik dan jangka panjang terbesar dari Syekh Abdurrahman Firdaus adalah keberhasilannya bertindak sebagai mentor utama dari Prof. AGH. Ali Yafie.
Saat Gurutta H. Ali Yafie muda menimba ilmu di Jampue dan Parepare, Syekh Abdurrahman Firdaus memberikan bimbingan intensif dalam mengkaji sastra Arab tingkat tinggi (balaghah dan mantiq) serta kitab-kitab ushul fikih.
Melalui bimbingan Syekh Abdurrahman Firdaus, AGH. Ali Yafie pertama kali diperkenalkan pada pemikiran para tokoh pembaharu dunia.
Pengaruh internalisasi pemikiran kosmopolitan dari gurunya inilah yang membentuk fondasi berpikir AGH. Ali Yafie di kemudian hari, terutama ketika ia menelurkan konsep “Fikih Sosial” (fikih yang peduli pada masalah lingkungan, keterlibatan sosial, dan kebangsaan) saat beliau memimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tingkat nasional.
– Kesimpulan
Syekh Abdurrahman Firdaus merupakan representasi dari kokohnya jaringan ulama transnasional yang memberi warna pada pergerakan Islam lokal di Sulawesi Selatan.
Perannya dalam Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) bersifat fundamental, mulai dari ranah konseptual (pencetus nama DDI), ranah taktis (konsolidasi ulama di era revolusi), ranah penulisan risalah/karya keagamaan, hingga ranah kaderisasi intelektual (pembimbing AGH. Ali Yafie).
Integrasi pemikiran makro kosmopolitan miliknya dengan kearifan lokal Bugis dari AGH. Ambo Dalle menjadi motor utama yang membawa DDI berkembang menjadi organisasi massa Islam yang inklusif dan moderat.
– Saran
Diharapkan institusi akademik maupun lembaga internal DDI dapat melakukan digitalisasi dokumen-dokumen manuskrip dan risalah peninggalan Syekh Abdurrahman Firdaus guna menyingkap lebih jauh khazanah pemikiran fikih dan dakwah beliau yang belum terpublikasi secara luas.
– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad
DAFTAR PUSTAKA
– Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. (n.d.). Jaringan Pengabdian Ulama dan Dinamika Intelektual Tradisional di Jampue. Pusaka: Jurnal Khazanah Keagamaan, Vol. 4, No. 2. Diunduh dari Pusaka Journal.
– Raodatul Jannah, U. (2024). Peran K.H. Muhsin Umar Afandi dalam Penegakan Syariat Islam di Desa Jampue Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang (Institut Agama Islam Negeri Parepare, Parepare. Diakses dari Repository IAIN Parepare.
– Royyan, A. A. (2018). Pemikiran KH Ali Yafie dalam Hukum Keluarga (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta). Diakses dari [Repository UIN Jakarta]
– Said, A. R. A. (2009). Darud Da’wah wal Irsyad Abdurrahman Ambo Dalle Mangkoso. Mangkoso: Pondok Pesantren DDI Abdurrahman Ambo Dalle Mangkoso.
– Santi, M. (2023). Implementasi Manajemen Kesiswaan di Madrasah Aliyah DDI (Universitas Islam Negeri Datokarama Palu). Diakses dari Repository UIN Datokarama.
















