Hikmah Lailatul Qadar

0
111

Surah al-Qadr adalah surah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw sebelum berhijrah ke Madinah (makkiyah) yang terdiri dari lima ayat.

Surah ini menceritakan sejarah awal turunnya al-Qur’an. Surah ini juga mendeksripsikan keagungan al-Qur’an dan kemuliaan “lailatul qadr” ketika masa pewahyuan awal itu.

Ayat ketiga menjelaskan keutamaannya yaitu melebihi seribu bulan. Kata “lailatul qadr” dalam surah tersebut diulang sebanyak tiga kali sebagai pertanda keistimewaannya. Pahala atau ganjaran kebaikan yang dilakukan malam itu berlipat ganda.

Adapun ayat keempat dan kelima menyebut malaikat turun pada malam itu memberi salam kepada kaum mukminin dan memohonkan ampun untuk mereka.

Pada malam tersebut malaikat turun membawa rahmat kepada segenap hamba Allah Swt yang bertaubat, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menghidupkan malam tersebut dengan amalan kebaikan.

Dengan begitu, “lailatul qadr” bermakna ampunan, diterimanya amal, ataupun terjauh dari neraka, bukan dalam bentuk fisik yang digambarkan oleh sebagian kalangan.

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Saw adalah di bulan Ramadhan, tepatnya di “lailatul qadr” ini. Dinamai “lailatul qadr” karena malam itu penuh dengan keagungan dan kemuliaan.

Pada malam itu diturunkan al-Qur’an yang memiliki keutamaan, diantarkan oleh malaikat yang mulia, dan diperuntukkan bagi umat yang terhormat.

Terkait penentuan lailatul qadr ini terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas ulama menyebut malam kedua puluh tujuh Ramadhan di setiap tahunnya. Ada juga yang menyebut malam kedua puluh satu Ramadhan. Ada juga yang hanya menyebut di sepuluh malam terakhir (al-‘asyr al-awakhir) Ramadhan tanpa menentukan malam pastinya.

Hikmah kerahasiaannya adalah supaya kita fokus beramal shalih dan mendekatkan diri kepada Allah Swt di sepanjang Ramadhan, lebih spesial lagi di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sama halnya dengan tidak ditentukannya apa yang dimaksud dengan shalat wustha (QS. al-Baqarah: 238) agar kita senantiasa menjaga dan menyempurnakan pelaksanaan perintah shalat. Atau, kematian setiap orang yang tidak diketahui datangnya agar kita memaksimalkan kesempatan hidup di dunia ini dengan aneka kebajikan.

Yang jelas, sejumlah riwayat hanya menyebutkan karakter dan tanda-tanda lailatul qadr ini ketika turun, tidak menyebutkannya secara pasti.

Semua yang bertaqarrub kepada Allah Swt pada malam lailatul qadr tersebut akan memperoleh ampunan dan ganjaran yang berlipat ganda. Amalan yang dilakukan juga bermacam-macam selama niat yang ikhlas dan terlaksana dengan baik.

Kita hanya bisa berupaya seoptimal mungkin sesuai kesanggupan kita, hanya Allah Swt jualah yang menentukan hasilnya.

Jika ada uzur seperti sakit dan semacamnya yang mengharuskan seseorang tidak berpuasa selama Ramadhan, maka niat baiknya untuk berpuasa dan niat menghidupkan lailatul qadr (jika sehat) tidak akan disia-siakan oleh Allah Swt.

Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibn ‘Abbas menjelaskan bahwa jika seseorang berniat melakukan kebaikan sudah diberikan pahala di sisi Allah Swt, terlebih ketika melakukannya.

Oleh karena itu, tradisikan kebaikan dan niat untuk melakukannya. Kalau ternyata sudah berniat namun belum tersampaikan karena ada uzur, akan bernilai di sisi Allah Swt.

Lain halnya ketika tidak berpuasa, tidak menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan amalan seperti tarawih, witir, dan selainnya karena kelalaian, kemalasan, dan semacamnya, maka itu tentu sulit untuk memperoleh berkah lailatul qadr.