AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Hikmah Sosial Kemasyarakatan
Hikmah lainnya dari puasa adalah hikmah sosial. Dengan puasa seorang muslim dilatih oleh Allah SWT untuk merasakan lapar. Rasa lapar ini diperlukan oleh orang-orang yang kesehariannya berkecukupan apalagi kaya yang mungkin tidak pernah merasakan rasa lapar semacam ini.
Dengan merasakan lapar diharapkan orang yang kaya bisa membayangkan bahwa seperti inilah keadaan kaum dhuafa’; lapar, bahkan berhari-hari dan tidak mendapatkan kepastian berbuka dengan makanan bergizi.
Maka, tahapan berikutnya adalah timbulnya empati kepada kaum dhuafa’ ini sehingga tergeraklah orang-orang kaya untuk menyantuni mereka.
Hikmah sosial lainnya adalah puasa yang telah melatih kejujuran pribadi merupakan training bersama kepada seluruh komponen masyarakat untuk hidup jujur.
Dengan kejujuran ini maka kehidupan sosial akan berjalan lebih harmonis, korupsi menurun, dan pemenuhan tanggungjawab semua elemen bangsa meningkat sehingga umat Islam mengalami kemajuan yang signifikan.
(1)”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” [QS. Al Baqarah : 183]
(2)“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Bukhari & Muslim]
(3) “Jika nafsu lapar, semua anggota tubuh akan kenyang. Jika nafsu kenyang, semua anggota tubuh akan lapar”.
Ungkapan ini memiliki makna filosofis yang dalam dan ada kaitannya dengan wasiat Luqman al Hakim yang berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku, jika perut terisi penuh, pikiran akan tertidur, hikmah tidak akan muncul, dan anggota tubuh akan malas melakukan ibadah”.
Jadi, kalimat di atas cukup relevan untuk dikemukakan kembali, terutama berkenaan dengan bulan puasa.
Sebagaimana terungkap, dari segi bahasa, puasa bermakna membentengi dan menahan diri (imsak) atau mencegah.
Dengan demikian kita bisa membayangkan dengan sederhana, bahwa dengan puasa berarti kita harus bertahan untuk menang melawan hawa nafsu dan meruntuhkan kekuatannya yang tersalur melalui pembuluh darah.
Ketika seseorang melihat hidangan makanan yang lezat, aroma menyeruak sampai ke perut atau melalui air tawar yang menari-nari di hadapannya, maka pada saat itu pula seseorang harus menahan diri sampai waktu yang ditentukan.
Puasa berarti pula mencegah kecurangan-kecurangan yang menyebabkan kita gagal meraih pahala. Dengan puasa, seorang mukmin menunjukkan loyalitasnya terhadap Allah SWT.










