Makna Kematian bagi yang Masih Hidup

0
111

 

Malam kedua tahlilan Anregurutta Prof. KH Ali Yafie dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Gurutta Muhsin Mahmud. Keluarga inti gurutta Ali Yafie hadir antara lain Helmi Ali, Saifuddin Ali, Badrudtamam Ali, dan sejumlah cucu. Selain itu, juga hadir sejumlah santri alumni DDI seperti Ketua Umum Ikatan Alumni DDI (IADI), Arham Basid, Sekertaris IADI, Syahrullah Iskandar, dan Tokoh muda DDI, Nurhasan, pengurus Masjid Istiqlal Jakarta, Dr. KH Saifuddin Zuhri, dan alumnus lain.

 

Dalam tahlilan kali ini, Dr. KH Saifuddin Zuhri didaulat untuk menyampaikan tausiyah. Dalam ceramahnya, alumnus DDI 1985 itu menyampaikan bahwa semua merasa kehilangan atas kepergian Gurutta Ali Yafie. Semua mengalami kesedihan yang teramat dalam. Namun betapa pun semua orang merasa sedih dan tak ingin kehilangan, tapi kematian tidak bisa dihindari.

 

“Tak ada obat untuk mencegah kematian,” kata jebolan MAPK Makassar dan IAIN Jakarta itu

 

Musibah seperti ini, menurut dia, adalah pengingat bahwa hidup pasti akan berakhir.

 

Ust. Saifuddin melanjutkan bahwa sekali pun hidup pasti berakhir, namun Gurunda memiliki umur yang sangat panjang, yakni 96 tahun. Umur yang panjang ini, menurut dia, memiliki makna yang sangat penting bagi para murid beliau. Sebagai murid, kata Saifuddin, selama ini kita merasa terus terjaga dengan kehadiran beliau. Tapi apakah setelah kepergian beliau, kita sebagai murid sudah lepas dari pengawasan beliau?

 

KH Saifuddin Zuhri mengingatkan bahwa sekarang gurunda ada di alam barzah. Alam barzah dimulai sejak kematian manusia pertama sampai malaikan israfil meniup sangkakala. Artinya masa alam barzah memiliki rentang waktu yang sangat panjang.

 

“Alam barzah adalah mukaddimah untuk akhirat yang kekal,” ungkapnya.

 

Sebagai pendahuluan, di alam barzah, mereka yang memiliki tabungan amal baik akan mulai merasakan kebahagiaan karena amalannya. Sebaliknya, mereka yang selama hidup di dunia menumpuk dosa dan kejahatan akan mengalami siksa alam barzah.

 

Orang-orang saleh sebenarnya ingin segera pindah ke alam barzah karena apa yang menanti mereka di sana adalah sesuatu yang baik.

 

“Gurunda Ali Yafie, Ibu Aisyah Umar, dan Azmi Ali Yafie masuk dalam kelompok orang-orang saleh yang akan mendapatkan nikmat di alam barzah karena kebaikannya semasa hidup,” jelas khatib Masjid Istiqlal tersebut.

 

Ust. Saifuddin melanjutkan bahwa usia dan kesehatan adalah sarana untuk persiapan untuk menuju alam barzah. Ust. Saifuddin menegaskan bahwa alam barzah belum final. Arwah yang berada di alam barzah sedikit banyak masih terkoneksi dengan alam dunia.

 

Doa-doa dari mereka yang masih hidup akan menjadi penambah pahala bagi mereka yang telah mendahului. Akan halnya Anregurutta Ali Yafie, kebahagiaan beliau akan selalu bertambah dan berlimpah ruah karena beliau memiliki ratusan ribu murid dan anak-anak saleh yang terus mendoakannya.

 

Salah satu keistimewaan KH Ali Yafie, menurut Ust. Saifuddin, adalah istiqamah dan komitmen pada keyakinan dan pilihan yang beliau ambil. Hal ini misalnya terbukti ketika beliau mengambil sikap mundur sebagai Rais Aam Nahdlatul Ulama.

 

Moment tahlilan malam kedua ini juga dimanfaatkan oleh sejumlah santri untuk bertanya pada Gurutta Helmi Ali tentang perjalanan hidup AG Ali Yafie. Secara runut, gurutta Helmi bercerita panjang lebar tentang sejarah hidup dan perjuangan AG Ali Yafie. Dalam cerita ini, tentu saja, juga terdapat cerita mengenai pendirian DDI dan sejarah perjuangan Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle. Tapi bagian ini akan kami tulis di lain kesempatan.