Puasa Adalah Benteng

0
164

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Maksud ungkapan “puasa adalah benteng” berarti puasa merupakan pelindung dan penjaga dari kemaksiatan dan dari siksaan di hari akhir.

Puasa merupakan penyucian jiwa, peninggian spiritual, mengajarkan kepada manusia bagaimana mengangkat derajat dari derajat hewan yang kebutuhannya memenuhi perut, makan dan minum, mengajarkan kepada manusia bagaimana meninggikan diri mereka sampai ke derajat para malaikat yang dekat dengan Allah, ibadah dan taqwa kepada-Nya, dan puasa itu sebagai makanan bagi ruh mereka.

Puasa mendidik untuk membiasakan sabar, mengekang hawa nafsu, membiasakan untuk menanggung beban berat, dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini.

Imam Al Bukhary juga meriwayatkan sebuah hadits dari Mali, dari Abu Zanad, dari Al A’roj, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw.,

“Puasa adalah benteng.  Jika salah seorang di antaramu berpuasa, maka jangan berkata-kata kotor, yaitu jangan mengatakan ucapan yang tak sepantasnya diucapkan (karena tak senonoh atau jorok), dan jangan berlaku bodoh, seperti berbuat gaduh, takabur, dan congkak, dan jika seseorang memusihinya atau mengejeknya, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya saya berpuasa, sesungguhnya saya berpuasa’”.

Kewajiban puasa datang di bulan Ramadhan, sebab dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ramadhan adalah penghulu bulan.

Para ulama mengatakan bahwa Ramadhan adalah tempat orang menuju surga, sebab di bulan ini segala perbuatan baik akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Barang siapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dia dibebaskan dari api neraka.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa”.

Rasulullah menjawab, “Allah tetap akan memberikan pahala kepada orang yang memberikan makanan, meski hanya berupa kurma, segelas air atau susu yang disedu dengan air”.

Kemudian Nabi Muhammad SAW. menambahkan, “Ramadhan adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya merupakan kebebasan dari neraka. Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan tersebut, maka dia akan diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya”.

Menurut tinjauan sejarah, puasa merupakan peribadatan (ritual) dan syiar Islam sejak jaman nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad saw.

Ritual ini tetap diwajibkan sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 183.

Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya puasa dan betapa tinggi kedudukannya.

Allah menganjurkan hal demikian bagi setiap umat Islam, tak lain karena dengan puasa, manusia bisa memetik banyak faedah, baik yang bersifat spiritual maupun material.

ddi abrad 1