Islam, Ajaran Kemaslahatan, Kemanusiaan dan Relevansinya dengan Puasa
Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag.M.HI
(Pengurus PW DDI dan MUI Sul.Sel)
Islam adalah agama yang diturunkan sebagai rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam. Rahmat dalam Islam bukan sekadar sentimen belas kasih, tetapi mencakup keseluruhan sistem nilai, etika, dan hukum yang bertujuan memuliakan manusia, mengangkat martabatnya, serta membangun tatanan kehidupan yang adil, harmonis, dan berkelanjutan.
Ajaran Islam hadir untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta. Di antara ajaran yang paling kuat menampilkan dimensi rahmat dan kemaslahatan tersebut adalah ibadah puasa.
Allah swt. berfirman dalam Surah al-Anbiyā’ ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107).
Ayat ini menegaskan sifat dasar risalah Islam. Dalam tafsir Ibn Katsīr dijelaskan bahwa rahmat yang dibawa Nabi mencakup seluruh makhluk: manusia, hewan, tumbuhan, bahkan sistem sosial dan tatanan kehidupan.
Rahmat itu hadir melalui syariat yang memungkinkan manusia menjalani hidup dengan keseimbangan, kedamaian, dan kesadaran moral. Al-Marāghī menambahkan bahwa rahmat tersebut terwujud melalui penegakan akhlak, keadilan, kebaikan sosial, dan penyucian jiwa.
Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, meluruskan orientasi hidup, dan menuntun manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Salah satu ibadah yang paling erat dengan misi rahmat tersebut adalah puasa. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Puasa bukan sekadar tindakan menahan lapar dan dahaga. Dalam tafsir al-Qurṭubī, puasa adalah sarana pembinaan jiwa, pengendalian syahwat, dan penyucian akhlak.
Ketakwaan yang menjadi tujuan puasa bukan sesuatu yang abstrak; ia terwujud dalam disiplin personal, kejujuran, kedermawanan, kepekaan sosial, dan keteguhan dalam kebaikan.
Orang yang berpuasa dengan kesadaran penuh akan memperoleh kecakapan untuk mengendalikan dorongan-dorongan destruktif dan mengembangkan perilaku yang memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Rasulullah saw. bersabda:
«الصِّيَامُ جُنَّةٌ»
“Puasa adalah perisai (pelindung).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam al-Nawawī menjelaskan bahwa puasa menjadi perisai dari akhlak buruk, syahwat yang tidak terkendali, dan perilaku yang merugikan orang lain.
Dengan kata lain, puasa menanamkan etika kemanusiaan dan kematangan emosional. Ia membangun kepribadian yang lembut, empatik, sabar, dan peduli.
Di sinilah letak rahmatnya: puasa membentuk manusia menjadi lebih manusiawi dalam relasinya dengan sesama.
Karena puasa menghubungkan pengendalian diri dengan empati sosial. Saat seseorang merasakan lapar, ia menyadari adanya orang lain yang lapar tanpa pilihan.
Dari sinilah tumbuh kesadaran untuk berbagi, sedekah, zakat, dan terlibat dalam kegiatan sosial.
Puasa bukan ibadah yang menjadikan seseorang individualis, tetapi sebaliknya, ia mengembalikan kesadaran kolektif bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri.
Selain dimensi spiritual dan sosial, puasa juga memberi kemaslahatan fisik dan kesehatan.
Ilmu kedokteran modern, khususnya neurologi, telah menunjukkan bahwa puasa memperbaiki metabolisme, menyeimbangkan kadar gula darah, mengurangi peradangan, dan meningkatkan hormon brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang memulihkan dan memperkuat jaringan saraf otak.
Proses autophagy, yaitu pembaruan sel-sel tubuh yang rusak, meningkat selama puasa. Ini menguatkan fakta bahwa syariat Islam tidak bertentangan dengan sains, tetapi justru memuat hikmah biologis yang mendalam. Puasa menyentuh tubuh, jiwa, pikiran, dan akhlak secara simultan.
Kemaslahatan yang menjadi dasar ajaran puasa semakin jelas jika dikaji melalui perspektif maqāṣid al-syarī‘ah.
Syariah Islam bertujuan menjaga lima kebutuhan dasar manusia: menjaga agama (ḥifẓ al-dīn), menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), menjaga akal (ḥifẓ al-‘aql), menjaga keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan menjaga harta (ḥifẓ al-māl). Puasa memenuhi kelima kebutuhan ini sekaligus.
Puasa memperkuat ḥifẓ al-dīn karena ia adalah latihan ibadah dan kepatuhan kepada Allah. Puasa menjaga ḥifẓ al-nafs melalui pola hidup sederhana dan kesehatan tubuh.
Puasa mendukung ḥifẓ al-‘aql karena menumbuhkan kejernihan mental dan mengurangi kecanduan syahwat dan konsumsi berlebih.
Puasa menyokong ḥifẓ al-nasl dengan melatih stabilitas emosi dan kesucian hubungan.
Puasa juga menguatkan ḥifẓ al-māl dengan membiasakan pengelolaan rezeki yang efisien, menghindarkan manusia dari pemborosan, dan menumbuhkan semangat berbagi.
Prinsip maslahat dalam syariah diperjelas oleh Allah swt. melalui ayat:
مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِیَجۡعَلَ عَلَیۡكُم مِّنۡ حَرَجࣲ وَلَـٰكِن یُرِیدُ لِیُطَهِّرَكُمۡ وَلِیُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَیۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Allah tidak menghendaki kesulitan bagi kalian, tetapi Dia menghendaki untuk membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 6).
Ayat ini menegaskan bahwa syariah bukanlah beban, tetapi sarana penyempurnaan manusia. Karena itu, ketika seseorang sakit, hamil, menyusui, atau dalam perjalanan, ia mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.
Rahmat Islam tidak berhenti pada perintah, tetapi juga tampak dalam kemudahan menjalankannya.
Dari perspektif sosial, puasa adalah instrumen rekonstruksi masyarakat. Ia mengubah orientasi hidup dari konsumsi menuju kesederhanaan, dari egoisme menuju kepedulian, dari keterikatan fisik menuju kejernihan spiritual.
Puasa mengurangi tekanan sosial akibat gaya hidup materialistis dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih tenang dan terkelola.
Pada akhirnya, puasa adalah gambaran utuh bagaimana Islam menghadirkan rahmat dan kemaslahatan.
Ia menyembuhkan tubuh, menenangkan jiwa, memperluas empati, menguatkan ketahanan sosial, menumbuhkan keadilan, dan membangun manusia yang beradab. Puasa menjadikan manusia lebih dekat kepada Tuhan, tetapi juga lebih dekat kepada manusia dan alam.
Dengan demikian, ketika puasa dijalankan secara sadar, bukan hanya sebagai rutinitas, maka ia menjadi jalan kemanusiaan yang menghidupkan rahmat Islam di tengah kehidupan.
















