Kontribusi Tiga Ulama Sulawesi Selatan Dalam Pemikiran Kebangsaan

0
74
DDI dan Ahlussunnah

Kontribusi AGH. Muhammad Nur, AGH. Syamsul Bahri Galigo, dan AGH. M. Quraish Shihab dalam Pemikiran Kebangsaan

Tulisan ini mengkaji kontribusi dan peran strategis tiga ulama terkemuka asal Indonesia Timur—Anregurutta Haji (AGH) Muhammad Nur, AGH. Prof. Dr. Syamsul Bahri Galigo, dan AGH. Prof. Dr. M. Quraish Shihab—pada peristiwa Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tingkat nasional pada tahun 1979.

Melalui pendekatan historis-biografis dan analisis teks, artikel ini mengurai bagaimana ketiga tokoh tersebut melakukan diplomasi keagamaan dan kebangsaan guna menjembatani nilai-nilai Islam tradisional (Ahlussunnah wal Jama’ah) dengan ideologi negara Pancasila di era Orde Baru.

Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan mereka tidak hanya berhasil mengamankan eksistensi madrasah dan pondok pesantren di bawah naungan Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) dari tekanan politik, melainkan juga melahirkan integrasi kurikulum kepesantrenan yang berwawasan kebangsaan (wasathiyah) serta memperkokoh jaringan intelektual Islam Nusantara di kancah nasional dan internasional.- Pendahuluan

Relasi antara agama dan negara pada masa pemerintahan Orde Baru (1966–1998) dipenuhi oleh dinamika dan ketegangan ideologis.

Salah satu fase paling krusial terjadi pada akhir dekade 1970-an, ketika pemerintah menetapkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Kebijakan ini mewajibkan seluruh elemen bangsa, termasuk lembaga keagamaan dan pesantren, untuk mengikuti penataran ideologi negara secara masif.

Bagi kalangan Islam tradisional, regulasi ini awalnya memicu resistensi dan kekhawatiran akan terjadinya desakralisasi nilai-nilai keislaman.

Di tengah situasi tersebut, peran para ulama kharismatik daerah menjadi sangat sentral sebagai jembatan kultural.

Pada tahun 1979, pemerintah mengundang delegasi ulama terkemuka dari Indonesia Timur untuk mengikuti penataran P4 tingkat nasional di Jakarta.

Di antara utusan tersebut terdapat tiga figur utama intelektual Islam asal Sulawesi, yaitu AGH. Muhammad Nur (ulama hadis terkemuka dan pengurus NU/tokoh kultural DDI), AGH. Prof. Dr. Syamsul Bahri Galigo (tokoh muda DDI), dan AGH. Prof. Dr. M. Quraish Shihab (dosen IAIN dan pakar tafsir).

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana kiprah, perdebatan pemikiran, serta dampak dari keterlibatan ketiga tokoh tersebut dalam

Penataran P4 Depag pusat tahun 1979 terhadap eksistensi kelembagaan Islam, khususnya organisasi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).

– Profil Intelektual Tiga Tokoh Utama

A. AGH. Muhammad Nur (Nashirusunnah)
AGH. Muhammad Nur (wafat 2011) merupakan salah satu ulama langka di Sulawesi Selatan yang memegang sanad keilmuan hadis otoritatif langsung dari Makkah.

Menempuh pendidikan di Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah, beliau dikenal dengan gelar Al-Allamah Al-Jalil KH Muhammad Nur Al-Bugisy Nashirusunnah.

Sekembalinya ke tanah air, beliau mendirikan Ma’had Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah (MDIA) At-Taqwa di Makassar.

Pemikiran fikih dan telaah hadisnya, seperti yang tertuang dalam analisis manuskrip Kasyf al-Astar, menjadikannya benteng metodologis ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

B. AGH. Prof. Dr. Syamsul Bahri Galigo
Sebagai representasi intelektual muda DDI, AGH. Syamsul Bahri Galigo menyelesaikan gelar Sarjana Muda (BA) di Universitas Islam DDI Parepare pada tahun 1978.

Kompetensi akademis dan manajerialnya membawa beliau menjadi pimpinan perguruan DDI di kota Palu (Sulawesi Tengah).

Di kemudian hari, beliau memperluas jaringan internasional dengan mendirikan Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) pada 1996 [macassar.id] dan menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) DDI.

C. AGH. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dosen IAIN Makassar,
Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini menonjol sebagai pemikir tafsir kontekstual.

Di tahun 1979, kedalaman pemahaman kebahasaan dan metodologi tafsir Al-Qur’an miliknya melengkapi pendekatan tekstualis-hadis dari AGH. Muhammad Nur, membentuk sebuah tim intelektual yang kokoh untuk berdialog di tingkat nasional.

– Urgensi Historis Penataran P4 Tahun 1979

Keikutsertaan ketiga tokoh ini dalam Penataran P4 tahun 1979 memiliki beberapa signifikansi penting bagi perkembangan Islam berwawasan kebangsaan:

1. Diplomasi Keagamaan dan Validasi Teologis Pancasila

Dalam forum nasional tersebut, terjadi dialog intensif mengenai kedudukan Pancasila dalam pandangan hukum Islam.

AGH. Muhammad Nur memberikan sumbangan besar dengan menyodorkan dalil-dalil hadis dan kaidah fikih klasik untuk membuktikan bahwa asas-asas Pancasila selaras dengan Maqashid asy-Syari’ah (tujuan syariat Islam), terutama dalam menjaga kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan bersama (mashlahah mursalah).

2. Sinergi Tekstual-Kontekstual Keilmuan

Terjadi pertautan intelektual yang unik. Pendekatan hadis yang ketat dari AGH. Muhammad Nur bersinergi dengan wawasan tafsir emansipatif AGH. Quraish Shihab serta visi transformatif lembaga pendidikan yang diusung oleh AGH. Syamsul Bahri Galigo.

Formasi ini berhasil mematahkan stigma pusat bahwa ulama dari Indonesia Timur hanya berfokus pada dakwah lokal, melainkan mampu merumuskan konsep kenegaraan yang filosofis.

– Implikasi bagi Eksistensi dan Kurikulum DDI

Dampak dari diplomasi kebangsaan tahun 1979 ini secara langsung dirasakan oleh institusi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI):

Proteksi Politik Kelembagaan:

Keberhasilan para Anregurutta dalam merumuskan konsep keselarasan Islam dan Pancasila membuat jaringan pesantren DDI terhindar dari kecurigaan politik Orde Baru.

Lembaga DDI mendapatkan legitimasi penuh dari pemerintah untuk mengembangkan basis pendidikannya.

Integrasi Kurikulum Wasathiyah:

Pasca-1979, wawasan kebangsaan mulai diintegrasikan secara organik ke dalam kurikulum kepesantrenan DDI tanpa mereduksi porsi kajian kitab kuning.

Muncul pemahaman kolektif di kalangan santri bahwa mencintai tanah air (hubbul wathan) merupakan perwujudan esensial dari keimanan.

Kaderisasi dan Ekspansi Intelektual Global:

Pengalaman taktis di tingkat nasional membekali AGH. Syamsul Bahri Galigo dalam memperluas kepemimpinannya di DDI Palu serta wilayah regional Asia Tenggara.

Hal ini mempertegas peran DDI sebagai produsen ulama yang berwawasan global namun berbasis nilai-nilai lokal tradisional yang kuat.

– Kesimpulan

Peristiwa Penataran P4 tingkat nasional tahun 1979 merupakan momentum krusial bagi konsolidasi pemikiran Islam dan kebangsaan di Indonesia Timur.

Melalui sinergi AGH. Muhammad Nur, AGH. Syamsul Bahri Galigo, dan AGH. M. Quraish Shihab, dihasilkan pemikiran Islam moderat yang inklusif terhadap konsep bernegara.

Sumbangan berharga ini berhasil menjaga eksistensi gerak dakwah institusi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), sekaligus membuktikan bahwa tradisi pesantren mampu beradaptasi secara dinamis dalam konstelasi politik kebangsaan tanpa kehilangan orisinalitas keilmuannya.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

Daftar Pustaka

– Darud Da’wah wal Irsyad (PB DDI). (2024). Profil AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., M.A. Diakses dari ddi.or.id [ddi.or.id].

– Kementerian Agama RI. (2018). Sejarah dan Dinamika Pertumbuhan Pesantren di Sulawesi Selatan. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

– Laduni.id. (2021). Biografi Anregurutta Haji (AGH) Muhammad Nur Al-Bugisy (Nashirusunnah). Database Ulama Nusantara. Diakses dari laduni.id [laduni.id].

– Macassar ID. (2026). AGH A. Syamsul Bahri A. Galigo: Pendiri USIM dan Pakar Aswaja Asia. Diakses dari macassar.id [macassar.id].

– Nasruddin, M. (2020). Jejaring Sanad Hadis Ulama Bugis di Makkah: Studi Kasus Manuskrip Kasyf al-Astar Karya AGH. Muhammad Nur. Jurnal Pegon: Islam Nusantara.

– Shihab, M. Quraish. (2014). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

ddi abrad 1