Al-Qur’an sebagai Mantra

0
148
Dr. Abdul Mu'id Nawawi
Dr. Abdul Mu'id Nawawi

 

Entah di mana, tapi hampir pasti pernah, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa jika seorang manusia hendak berbicara dengan Allah SWT, maka hendaklah dia berdoa. Jika seorang manusia hendak Allah SWT yang berbicara kepadanya, maka hendaklah dia membaca Al-Qur`an. Ada semacam komunikasi timbal balik antara manusia dengan Allah SWT dan itu bisa dengan merapal doa dan bisa pula dengan membaca Al-Qur`an.

 

Jika mantra diartikan sebagai sarana komunikasi manusia dengan sesuatu yang gaib yang dianggap punya kuasa, maka doa dan Al-Qur`an adalah semacam mantra.

Musabaqah Tilawatil Quran yang dilaksanakan sejak tingkat RT hingga internasional bisa menjadi salah satu cara melihat bagaimana Al-Qur`an diperlakukan sebagai mantra.

Peserta yang membaca mesti melakukannya dengan khidmat sejak dari tempat duduknya hingga panggung lomba dan bahkan hingga kembali ke tempat duduknya semula. Tidak boleh ada cara jalan atau tindak tanduk yang terkesan tidak sopan karena itu bagian dari penilaian dewan hakim. Lalu, ada pembacaan yang berirama yang membuat pembaca dan pendengarnya tenggelam di dalam kekhusyukan.

Perapalan doa dan pembacaan Al-Qur`an adalah peristiwa sakral. Semua orang pada dasarnya boleh saja berdoa tetapi tidak semua orang bisa menjadi pemimpin doa saat doa bersama. Orang itu haruslah dikenal sebagai orang yang memahami agama dengan baik. Pembaca Al-Qur`an juga demikian. Siapapun boleh, namun ketika itu berarti membaca Al-Qur`an dengan baik dan sesuau aturan (tartîl) atau membaca Al-Qur`an dalam salat oleh imam, maka tidak semua orang layak menjadi imam. Hanya mereka dengan keilmuan tertentu yang boleh. Melanggar aturan itu bisa membuat salat menjadi tidak sah.

Mereka yang paling pantas berdoa dan membaca Al-Qur`an biasanya disebut ustaz, ulama, tuan guru, kyai, anre gurutta, dan sebagainya. Posisi mereka sangat terhormat karena dianggap memiliki hubungan dengan atau khusus dengan penguasa alam. Keberadaan mereka sangat penting untuk mengusahakan alam semesta berjalan sebagaimana yang diinginkan atau agar manusia tetap terjaga di dalam optimisme meski kenyataan hidup begitu berat. Karena itu, mereka hadir tidak hanya saat salat, tetapi juga dalam momentum penting kehidupan manusia lainnya seperti kelahiran, kematian, kebaikan, dan keburukan.

Selain sakral, perapalan doa dan pembacaan Al-Qur`an juga adalah momentum seni yang tinggi. Biasanya ada musikalitas tertentu dalam perapalan doa dan pembacaan Al-Qur`an yang membuat pendengarnya hanyut dalam kekhusyukan.

Namun, sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa pada dasarnya semua orang boleh merapalkan doa dan membaca Al-Qur`an, maka hampir setiap saat keduanya diamalkan. Apalagi banyak doa yang berasal dari Al-Qur`an juga. Setiap hendak melakukan sesuatu, seorang Muslim hampir pasti merapalkan doa atau membaca Al-Qur`an.

Saat itu, fungsi doa dan Al-Qur`an lebih kepada harapan baik atau paling tidak upaya untuk menjaga spritualitas tetap menjangkau segala aspek kehidupan, bukan hanya ibadah khusus. Semacam upaya mesakralisasi hal-hal yang sesugguhnya profan.

Doa dan Al-Qur`an tidak hanya muncul kala ada harapan, tetapi juga bisa muncul kala ketakjuban melanda saat yang tampak dan terasa adalah hal-hal yang indah atau menyenangkan. Kala berharap, doa dirapalkan agar keburukan tidak menimpa.

Alasannya adalah keburukan itu memiliki penguasanya sendiri yang mampu menimpakan dan mampu pula menghalangi terjadinya. Kala takjub, alasannya kurang lebih sama, yaitu keindahan itu memiliki penguasanya juga dan manusia hanyalah penerima, bukan pencipta keindahan. Sebagai penerima, manusia merasakan hal yang ambigu. Di hadapan penguasa, manusia merasakan ketakutan sekaligus keterpesonaan.

Selain berkaitan dengan ketakutan dan keterpesonaan, mantra juga berkaitan dengan waktu. Jadi ada doa atau bacaan Al-Qur`an tertentu dikhususkan untuk waktu-waktu dan tempat-tempat tertentu. Karena waktu terus berulang dalam hitungan hari, pekan, bulan, dan tahun, maka ada saja doa yang berulang pada waktu-waktu itu. Misalnya, doa waktu pagi yang berulang pada pagi berikutnya, bacaan Al-Qur`an yang dibaca setiap malam Jumat, hingga doa tahunan. Karena ada juga doa untuk tempat tertentu, maka bacaan doa untuk tempat tersebut juga berulang ketika manusia kembali ke tempat yang sama di waktu yang berbeda. Begitulah doa dan bacaan Al-Qur`an mewarnai setiap sendi kehidupan manusia.

Banyak doa yang sesungguhnya adalah bacaan Al-Qur`an jua, tetapi barangkali karena kreativitas manusia, banyak pula doa yang merupakan bikinan manusia sendiri. Dalam hal ini, bacaan Al-Qur`an tidak mungkin dibuat sendiri. Salah satu doa yang sangat populer adalah salawat, yaitu doa-doa untuk Nabi Muhammad Saw yang termaktub di dalam Maulid al-Barazanji. Isinya adalah kisah tentang Sang Nabi, tetapi dimaknai sebagai doa karena diyakini dengan dengan membacanya, karunia dari Allah SWT akan turun.

Saat sebuah doa dan bacaan Al-Qur`an dibacakan dengan musikalitas tertentu, kekhusyukan pembaca dan pendengar menjadi lebih dalam. Tapi apakah Tuhan sendiri menyukai musikalitas? Itu adalah perdebatan tersendiri. Apakah para pembaca doa harus memahami doa yang dibacanya? Tidak ada syarat seperti itu. kekhyusyukan jauh lebih penting daripada pemahaman dalam doa.

Pada dasarnya, doa ditujukan kepada realitas yang melampaui makna-makna yang mampu dipahami dan dirumuskan oleh manusia. Jadi, mengapa makna harus penting? Di dalam Al-Qur`an sendiri tidak jarang kata-kata yang ditafsirkan dengan kalimat seperti ini: “Hanya Allah sendiri yang mengetahui maknanya.

Tulisan ini disadur dari ibihtafsir.id.