Berpijak pada Mabda’ dan Tradisi DDI

0
175

BERPIJAK PADA MABDA DAN TRADISI DDI KITA MENYONGSONG ERA BARU (PENYATUAN DAN PERSATUAN) DDI

(VICTORY SPEECH OLEH KETUA PB DDI TERPILIH

DR.KH. M ALI RUSDY AMBO DALLE

Hadirin muktamirin dan muktamirat yang saya hormati.

Serta keluarga besar DDI yang saya cintai yang hadir pada hari yang bersejarah ini.

Syukur Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah, karena telah memberi kita kesempatan untuk berdamai dengan waktu, dan melalui kelapangan waktu itulah kita dapat berkumpul dan bersilaturrahim pada saat ini, sebuah momen yang sangat penting dalam sejarah perjalanan DDI, lembaga Islam yang lahir ditengah-tengah kancah perjuangan, bergolak mengawal kemerdekaan, dan mendapat tempat yang terhormat ketika kemerdekaan diraih yakni sebagai salah satu lembaga Islam terbaik di Indonesia dengan menempati urutan ke tiga setelah NU dan Muhammadiyah.

Tapi sejarah juga mencatat, bahwa ketika satu demi satu the founding father DDI menghadap kepada sang Pencipta, sayup-sayup mentari DDI pun mulai meredup sinarnya, tanpa pijar dan harapan, bahkan bercerai-berai, terpecah, dan terbelah dua. Sebuah tragedi sejarah yang miris dan memilukan.

Karena itu, saya menyambut gembira diadakannya Muktamar ini, dan berterima kasih kepada panitia karena memberi kesempatan kepada saya untuk tampil berbicara di hadapan Bapak/Ibu.

Sungguh sangat sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan saat ini lewat kata-kata, karena sebuah kata justru akan mereduksi makna. Apa yang kita harapkan dan inginkan bersama bahwa Muktamar DDI ini bisa menjadi awal gerak maju organisasi DDI ke depan.

DDI yang satu dan modern, dan hal yang paling dibutuhkan adalah mengembalikan semangat kebersamaan, kesatuan, seperti yang telah ditanamkan oleh para pendiri DDI, dan untuk mencapai semua itu dibutuhkan tiga hal;

1. Menghilangkan rasa ingin mengusai orang lain.

2. Menghilangkan rasa kecurigaan.

3. Tidak merasa yang paling benar.

Tradisi DDI yang berpijak pada budaya Sulawesi Selatan dan Barat, mengatakan bahwa

maliq siparappe, rebba sipatokkong, pada idiq pada eloq (hanyut saling menyelamatkan, rebah saling menegakkan, (tapi) di antara kita saling punya keinginan masing-masing).

Ungkapan ini mengajarkan kepada kita tentang dua hal, yakni makna sosial dan makna individual. Makna Sosial intinya adalah saling menghargai, saling menyayangi, saling dukung, saling menghormati, saling membantu, yang intinya mengajarkan kita tentang hubungan yang resiprokal , bukan sepihak, mau menang sendiri dan merasa diri yang paling benar.

Tapi pada sisi yang lain, budaya ini juga mengajarkan kepada kita, untuk menjadi diri kita secara utuh, yang punya perasaan, keinginan, dan kehendak.

Agar aturan sosial maupun aspirasi individual tidak kebablasan, maka ia dikontrol dan dipayungi oleh budaya agung orang Sulawesi Selatan dan Barat dengan apa yang dikenal siriq na pesse.

Siriq mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi harga diri, muruah, dan rasa malu, yang diikat oleh pesse yaitu rasa solidaritas yang tinggi.

Dalam ungkapan Bugis dikatakan,

yakko deq na siriqmu mamuare engka mennengmupa pessemu,

apabila sudah tidak ada siriq-mu, setidaknya engkau masih punya pesse.

Sehingga ajaran ini menekankan bahwa tau dee siriqna tania tau, rupa tau mani asenna,

orang yang tidak punya siriq bukan lagi manusia hanya bermuka manusia saja.

Inilah yang menjadi pedoman dan tradisi DDI yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para ulama dalam berinteraksi kepada sesama ulama, kepada murid, dan kepada masyarakat umum

Atas dasar keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa DDI bisa berubah dan maju, maka akhirnya saya tampil berdiri di hadapan para bapak-bapak dan ibu-ibu saat ini, dengan niat untuk mengembalikan tradisi DDI yang telah digerogoti oleh zaman.

Zaman yang menempatkan materi dan nafsu duniawi sebagai ukurannya.

Mari kita bersama-sama bekerja keras, dan dengan sekuat tenaga dan kemampuan, dan dengan keyakinan yang kuat pula Insya Allah DDI bersatu kembali, bersama-sama dengan kita berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan, dalam usaha menjadikan DDI sebagai lembaga modern yang tetap berpijak pada Mabda DDI dan tradisi DDI yang dikembangkan oleh para ulama DDI terutama ayahanda AG Abd Rahman Ambo Dalle..

Dalam berbagai kunjungan kami ke beberapa cabang DDI di Indonesia, maka situasi yang kami temukan sangatlah miris dan memprihatinkan, sebagian DDI telah mati, setengah hidup, dan yang hidup dan bertahan pun pada umunya masih tertinggal, itu kalau kita mengacu pada pensyaratan sebuah institusi pendidikan modern,

school must strike a healthy balance between ideslism and commercialism if they are to become respectable and durable educasional institution.

Sebuah lembaga pendidikan hanya mampu bertahan dan survive apabila mampu menyeimbangkan antara idealisme dan pendapatan yang diperoleh demi untuk membiayai kelangsungan hidupnya.

Di samping di bidang pendidikan dan dakwah, kita juga perlu memberi attention terhadap issu-issu global seperti Hak Asazi Manusia (HAM), lingkungan hidup, dan terorisme.

Kita harus mengembangkan Badan-Badan Otonom DDI agar tidak hanya terjebak dalam kegiatan rutinitas yang beku, tapi mereka harus mampu menerjemahkan gejolak zaman.

Tema-tema sosial yang kini lagi trend dan banyak diminati seperti masalah etnisitas, loyalitas kelompok, harkat manusia, balas dendam, bunuh diri, adat dan kesukuan, konflik agama, tradisi besar dan kecil, toleransi, global versus pluralism, merupakan issu-issu global yang harus ditanggapi secara serius dan diharapkan DDI dapat memberikan kontribusinya dalam mengatasi berbagai konflik yang ditimbulkannya

Hadirin muktamiriin dan muktamiraat yang saya hormati

Mengutip Bertolt Brecht dalam sebuah prosanya;

Kekeliruan dan kemajuan:

Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, kita tidak akan mengira bahwa kita akan melakukan kesalahan-kesalahan, dan kita jalan di tempat. Karena itu, kita harus memikirkan mereka yang akan meneruskan pekerjaan kita, hanya dengan begitulah, kita dapat menghindarkan bahwa sesuatu telah selesai.

Jakarta, 18 Desember 2014