Dunia, Apa yang Mesti Ditalak Tiga?

0
157

 

 

Ketika ditetak belati Ibn Muljam sang pembunuh, Imam Ali-sepupu, dan gerbang ilmu Nabi-berseru: “Aku telah menang! Demi Penguasa Ka’bah.”

 

Meninggalkan dunia baginya adalah suatu kebahagiaan.. Bukankah pernah sekali waktu dia berseru kepada dunia, saat seseorang melihatnya tegak di mihrab, sendirian, sedang malam menurunkan tirai dan bintang-bintang terbenam, lalu bergumam: “Dunia, oh dunia! Kau ingin memamerkan diri padaku atau membuatku menginginkanmu? Tak mungkin, tak mungkin. Perdayakan yang lain. Aku telah menalak tiga kamu! Umurmu singkat, (kecintaan kepada) kehidupanmu hina dan bahaya (tipuan)-mu besar. Oh minimnya bekal, jauhnya perjalanan, dan sepinya jalan!” Karena hidup di bumi manusia ini, bagi pencinta Tuhan sepertinya, bukanlah sesuatu yang menyenangkan: “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia….”

 

Tapi, apakah Imam Ali mengajarkan bahwa kehidupan dunia itu buruk? Tidak. Kata Imam Ali: “Sesungguhnya dunia ini adalah rumah kebenaran bagi orangorang yang menelitinya secara cermat dan mendalam, suatu tempat tinggal yang penuh kedamaian dan kerehatan bagi orang-orang yang memahaminya, dan yang terbaik sebagai lahan bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal bagi kehidupan akhirat. Inilah tempat untuk mencari ilmu dan hikmah bagi orang-orang yang ingin meraihnya, tempat beribadah bagi sahabat sahabat Allah dan bagi para malaikat. Inilah tempat yang di dalamnya para nabi menerima wahyu dari Sang Rabb. Inilah pula tempat bagi para wali Allah untuk menyelenggarakan amal-amal baik dan untuk meraih imbalan yang setimpal; hanya di dunia ini mereka bisa berdagang untuk memperoleh rahmat Allah, dan hanya ketika hidup di sini mereka bisa menukar amal-amal baik mereka dengan surga.”

 

Nah, setelah ini semua, masihkah ada bicara tentang keburukan dunia ini?

 

Jadi, yang ditalak tiga oleh beliau adalah tipuan dunia. Hal-hal dari dunia-sikap berlebihan, tamak, egois, dan lain-lain yang mendorong nafsu kita untuk berbuat keburukan, bukan kehidupan dunia itu sendiri.

ddi abrad 1