Logika, Etika dan Estetika AGH Abdurrahman Ambo Dalle

0
721
Hery Syahrullah, S.I.P., M.I.P. (Ketua Umum PP IMDI)

“Agguruko mappagguru, agguruko mappagguru, gangkanna Puang Allah Ta’ala pagguruko !”
(Teruslah melakukan proses belajar-mengajar, hingga Allah sendiri yang akan memberimu pengajaran).

Demikianlah kira-kira bunyi pesan AGH Abdurrahman Ambo Dalle yang masih terus terngiang di telinga, dari masa ke masa. Pesan tersebut menjadi bukti bahwa Gurutta Ambo Dalle merupakan salah seorang tokoh yang menitikberatkan perjuangannya ke arah dunia pendidikan. Baginya, selama masih ada generasi manusia yang eksis melakukan gerakan pendidikan, selama itu pula dunia tak akan jauh dari peradaban.

Kecintaan beliau terhadap dunia pendidikan tergambar jelas dalam beragam rekam jejak perjalanan hidupnya. Mulai dari ke-tawadhu-annya belajar dengan orang yang lebih muda darinya, hingga ke-istiqamah-annya melakukan ekspansi pengetahuan ke berbagai penjuru daerah, tanpa mengenal kata lelah, apalagi menyerah.

Untuk merapikan dan memassifkan gerakan suci itu, Gurutta membentuk sebuah organisasi kemasyarakatan yang diberi label Darud Da’wah wal Irsyad (DDI). Lewat kaderisasi yang dilakukan melalui organisasi tersebut, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang pun terlahir. Baik yang eksis dalam dunia agama, sosial, ekonomi hingga politik.

Saya sepenuhnya percaya, keaktifan Gurutta dalam pendidikan adalah bukti keinsyafan beliau dalam memanusiakan manusia. Apalagi, secara teoritis, dalam diri manusia disematkan dua sisi kecenderungan yang sering kali mengalami benturan. Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa (Tuhan mengilhami manusia dengan keburukan dan ketaqwaan).

Sejalan dengan itu, dalam buku karangan Dr. Fakhruddin Faiz berjudul “Menjadi Hamba Menjadi Manusia” dijelaskan bahwa ada dua kecenderungan yang dimiliki oleh manusia. Yakni, kecenderungan positif dan kecenderungan negatif. Kecenderungan positif itu erat kaitannya dengan logika, etika, dan estetika. Bahwasanya, manusia cenderung memiliki naluri untuk mencari kebenaran, berbuat kebaikan, dan mencintai keindahan. Untuk mengistiqamahkan kecenderungan ini agar terus muncul di ruang terdalam hati manusia, maka dibutuhkan pengasahan pengetahuan melalui gerakan pemassifan pendidikan. Menurut saya, semua itu getol diteladankan dan diperjuangkan oleh AGH Abd Rahman Ambo Dalle, yang tergambar dalam rekam sejarah perjalanan hidup beliau.

Dalam aspek logika, Gurutta adalah sosok yang cerdas dan berwawasan ilmiah. Buktinya, ada beberapa karya tulis yang lahir dari hasil pengkajiannya. Di antaranya, Kitab Al-Qaul al-Shadiq fi Ma’rifat al-Khaaliq, Hilyah al-Syabaab fi Ilm al-Akhlaq wa al-Adaab, Mursyid al-Thullab fi Ilm Ushul al-Fiqh, Al-Mufradat al-Arabiyah, Maziyyah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, dan lainnya.

Dalam aspek etika, tidak perlu ditanya. Gurutta Ambo Dalle adalah sosok yang senantiasa memberikan pengajaran kepada santrinya bahwa akhlak mesti selalu ditempatkan di atas segalanya, sebagaimana Ibnu Arabi mengatakan bahwa adab itu di atas ilmu. Tak ada guna berilmu dan berpangkat tinggi, jikalau kesombongan dan egoisme bersarang dalam hati. Mungkin itulah yang menjadi sebab, Gurutta tidak merasa keberatan belajar dengan sosok guru yang secara usia jauh lebih muda darinya.

Dalam aspek estetika, Gurutta adalah sosok yang amat mencintai seni dan keindahan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya yang telah ditorehkan oleh beliau dalam bidang tersebut. Baik itu berupa kaligrafi maupun lagu. Karya kaligrafi yang paling populer dari beliau adalah gambaran tentang nama-nama Ashabul Kahfi, tujuh pemuda beriman yang dikisahkan Allah dalam al-Quran. Sedangkan karya lagu yang diciptakan oleh beliau tak kalah populernya. Sebab, masih bisa dinikmati di berbagai kanal media hingga hari ini. Di antara lagu ciptaan beliau itu adalah Sempajang’e, Miraje’, Ompokenna Uleng’e, dan lainnya.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, tak bisa dipungkiri bahwa salah satu strategi Gurutta Ambo Dalle dalam menggerakkan pendidikan adalah dengan meneladankan penggunaan kecenderungan positif yang ada dalam diri manusia. Baik itu dalam aspek logika, etika dan estetika.

Hanya saja, misi untuk membangkitkan kecenderungan positif manusia itu tak boleh berjalan sendirian. Mesti diikutsertakan dan diringi juga dengan misi mengubur kecenderungan negatif manusia. Dalam Al-Quran, Allah Swt berulang kali mengingatkan kepada manusia agar berhati-hati dalam menjalani perannya sebagai khalifah di dunia, sebab ada kehadiran naluri negatif yang sedia setiap saat menggagalkan misi suci manusia. Salah satu di antaranya, Innahuu kaana Dzaluuman Jahuulaa (Sesungguhnya manusia itu teramat zalim dan bodoh). Dzalim dikarenakan cenderung sombong dan susah mengamalkan ilmunya, bodoh dikarenakan sering kali enggan untuk belajar dari kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya.

Lewat gerakan pemassifan pendidikan dari berbagai tingkatan yang diusung oleh Gurutta, kecenderungan-kecenderungan negatif itu ditutup rapat-rapat ruang kebangkitannya, sehingga potensi positif yang  bersarang dalam hati manusia bisa berkuasa dengan leluasa.

Berangkat dari misi suci ini, pencetakan kader-kader melalui gerakan pendidikan yang diusung oleh AGH Abdurrahman Ambo Dalle, masih terus berlanjut hingga usia organisasi besutannya (DDI) menuju 85 tahun. Bahkan, akan terus berlanjut hingga dunia tak lagi terikat oleh ruang dan waktu.

Oleh
Hery Syahrullah
(Ketua Umum PP Ikatan Mahasiswa DDI)