Semangat Kerja Usai Liburan

0
50

Lensa Jurnalistik Islami

Suf Kasman

Dosen UIN Alauddin

Membangkitkan semangat kerja setelah liburan lebaran sedikit menjadi tantangan. Kadang rasanya bad mood saat mulai bekerja usai vakansi Idul Fitri.

Boleh jadi rasa bahagia bersama keluarga di kampung saat makan lawak bale, bette cuwiwi, tunu loka, likku’ manu’, pecak bue, lagi terngiang, masih menyimpan jejak-jejak rasa juwita.

Tidak sedikit masih mengarsip album indah dan mengingat kenangan rancak.

Menciptakan dongengan idiosinkratis sambil tertawa lepas dengan keluarga bahagia.

Binar dan elegi saling berbalas pantun cengengesan, bersama separuh jiwa penghuni raga.

Namun kini, usailah lakon episode demi episode fragmen terbaik liburan lebaran Idul Fitri, kita kembali ke habitat untuk memulai bekerja lagi.

Semangat kerja tak boleh redup.

Ayo kawan, semangat kerja lagi!

Lakukan atmosfer rutinitas sewajarnya, bekerja dengan sepenuh hati.

Karena itu, bisa tentukan esokmu yang sudah dijanjikan Ilahi Rabbi.

Bersyukurlah sudah punya pekerjaan yang menyenangkan.

Coba Anda menoleh ke kanan-kiri begitu banyak pribumi belum mendapatkan pekerjaan memadai.

Pelanginya sirna di balik mendung, dunianya pun semakin meredup.

Aku tidak tau, apakah memang nasibnya kurang beruntung, atau kebijakan dari Administrator Negeri belum tepat sasaran untuk mengatasinya. Padahal tak ada yang mustahil dalam hidup ini sekiranya mau bekerja, selama ada kemauan pasti ada jalannya. Kalau gak ada jalannya berarti jalan buntu…!!!

Kewajiban kita sebagai pekerja hanyalah giat bekerja. Kewajiban rezeki ialah mengejar para pekerja, bukan pekerja yang mengejar rezeki. Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah mencintai apa yang dikerjakan kekinian.

Bekerja artinya melakukan suatu pekerjaan sebagai usaha fisik yang berorientasi pada produksi pencarian nafkah. Harakah kerjanya meliputi: tekun, ulet, dan etos.

Al-Qur’an menyebut kerja sebagai ‘amal (kerja), kasb (pendapatan), sakhkhara (untuk mempekerjakan), air (upah atau penghargaan), ibtigha’a fadhl Allah (mencari keutamaan Allah Swt).

Bekerja erupakan keniscayaan dalam hidup. Bekerja itu sebuah kenikmatan yang tiada terkira rasanya. Tapi tidak sedikit orang justru malas bekerja, karena dirinya mengalami demotivasi dan frustrasi.

Ada orang hebat (high skill), tapi kesal dan frustasi melihat pekerjaan, sebab tidak ada ruang untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Contoh pemain bola, mereka ahli, bersemangat, bernafsu ingin menang. Tapi, mereka tidak dipersilahkan turun ke lapangan bermain, karena selalu di bangku cadangan. Mereka rata-rata mengalami pil pahit dan mengurut dada.

Makanya, dengan bekerja sekaligus berusaha menyelesaikan satu pekerjaan, itu merupakan suatu nikmat besar dan kepuasan tersendiri.

Ketahuilah, bekerja adalah fitrah setiap insan, sekaligus dapat meninggikan martabat dirinya sebagai ‘adullah (hamba Allah).

Salah satu tujuan bekerja dalam Islam adalah beribadah. Bekerja untuk mendapatkan rezeki halalan thayyiban termasuk jihad di jalan Allah. (Hadis)

Siapa pun yang menginginkan hal besar terjadi dalam hidupnya, maka mereka harus siap bekerja yang lebih akbar pula.

Mau menangkap ikan meski ikan kecil, tak usah terlalu jauh masuk ke tengah samudra, cukup di pinggir pantai dermaga yang tak berombak besar. Kecuali mau menangkap ikan besar, masuklah ke tengah gelanggang perairan tropis dan subtropis, aneka ikan besar bisa Anda dapatkan.

Hanya saja pekerjaan ini terlalu berat dan berisiko, perlu persiapan lahir batin dan alat yang memadai, karena Anda akan menghadapi amukan badai laut biru. Angin bergantang lepas bersama kabut yang menantang, membela laut menuju harapan.

Tidak sedikit orang bilang, jika tidak menantang sebuah pekerjaan, tidak akan mengubah hidupmu. Sekali-kali lakukanlah!

Begitulah metafora pekerjaan manusia, sikap kerja keras menunjukkan kesungguhan, memiliki semangat tinggi dalam mengerjakan sesuatu, tekun dan ulet, serta tidak mudah menyerah bila ingin mendapatkan cakalang-cakalang besar.

Pendeknya, tak ada seorangpun yang mencapai kesuksesannya tanpa melalui kerja keras.

Bekerjalah saat waktunya bekerja, dan berliburlah saat waktunya berlibur. Itulah aturan dasar dari kedisiplinan diri yang represif.

Tapi ketahuilah!

Ketika semua pekerjaan dirasa makin tidak menyenangkan bila dikerjakan, INGATLAH CICILAN…!!!

𝟏𝟖 𝐀𝐩𝐫𝐢𝐥 𝟐𝟎𝟐𝟒