Dekatnya Tuhan Itu

0
134

 

 

Wahai hamba-Ku, “Sungguh kemuliaan itu akan pudar, jika menemukan engkau dalam dirimu. Kehinaan itu akan sirna, jika engkau menemukan AKU dalam dirimu.” (Tuangku Muhammad Ali Hanafiah).

 

Tulisan ini adalah jawaban dari tanggapan yang masuk. Insya Allah, sebagaimana saya janjikan, tulisan ini akan ditutup dengan tulisan seorang guru/mursyid thariqah.

 

Adakah Akunya Tuhan dalam diri? Sebetulnya tulisan tersebut ingin menjelaskan Kalam Sirr yang ada (yang saya kutip). Ahli tharekat jelas tidak memaksudkan seperti yang prof maksud. Malah kalau seperti itu yang dimaksud, seperti dalam tulisan Prof., itu kita sudah jatuh ke dalam syirik.

 

Ahli tharekat hanya ingin mempertanyakan, apa sih hakekat roh yang ditiupkan sebagai Aku-Nya Tuhan itu? Ahli tharekat menjawabnya, bahwa itu adalah sifat-sifat Tuhan, bukan Zat-Nya. Yang menunjukkan bahwa Tuhan dengan kita itu sangat dekat. Ahli tharekat mengidentifikasinya sebagai 7 sifat ma’ani yang kita miliki

 

Saya ingin mengutip kembali tulisan yang saya diskusikan dengan Buya Husein Muhammad sbb: Hakikat diri kita itu adalah ruh ilahi. Ruh ilahi ini kemudian menjelma di diri menjadi tujuh sifat ma’ani Tuhan. Sifat-sifat itu adalah sifat _hayat_ (hidup), sifat _qudrat_ (kekuatan) sifat _iradat_ (keinginan), sifat _’ilm_ (pengetahuan), sifat _sama’_ (pendengaran), sifat _bashar_ (penglihatan), dan sifat _kalam_ (tutur kata). Ruh yang kemudian menjelma menjadi sifat-sifat itu bukan sekali tiupan, tapi ia ditiupkan terus-menerus, selama kita hidup, ada kekuatan, ada kehendak, ada ilmu, bisa mendengar, bisa melihat, dan bisa bertutur kata.

 

Karena sifat tiupan yang terus-menerus itulah, hingga kita bisa merasakan Tuhan (sangat dekat) dalam seluruh sisi kehidupan kita. Karena segala aktivitas kita tidak ada yang luput dari tujuh sifat ma’ani Tuhan yang kita sandang itu. Kita misalnya dapat merasakan hidup, karena Tuhan masih meniupkan ruh hayat-Nya ke kita. Kita dapat beraktivitas, karena tiupan sifat qudrat dan iradat-Nya. Kita dapat melihat karena tiupan ruh basar-Nya ke kita. Kita bisa bertutur kata, karena tiupan ruh kalam-Nya ke kita. Begitu pun aktivitas lainnya.

 

Demikian juga, karena sifatnya yang terus-menerus itu juga, kita akan diyakinkan bahwa sifat ma’ani yang kita sandang itu tak akan pernah eksis pada diri kita tanpa Zat-Nya di balik itu. Karena sifat itu tak mungkin ada tanpa sesuatu yang disifati atau Zat-Nya di balik itu. Terima kasih banyak Prof🙏🙏