Doyan Bertutur, Enggan Mendengar

0
193

Secara mendasar manusia adalah makhluk pencerita. Hanya saja, setiap orang punya karakter berbeda mengungkapkan isi otak, pengalaman, atau semacamnya. Ada yang butuh waktu lama ketika berbicara, ada juga yang bicaranya singkat atau seperlunya. Bahkan, ada juga yang diam meski diajak berbicara. Yang terakhir ini sangat mengena jika terkait sesuatu yang hanya menimbulkan keburukan buat diri ataupun orang lain.

Pertanyaan ini menarik untuk diulas. Banyak orang yang mengidap kebiasaan buruk ini. Lebih hendak didengar, namun tidak mau menyimak orang lain. Ini sering terjadi bila bertemu orang lain, melalui sarana telepon, atau selainnya. Suasana dialog diubahnya menjadi monolog. Lawan bicaranya dijadikan hanya sebagai “pendengar setia”. Yang seperti ini sebenarnya telah membalik logika “dua telinga satu mulut” menjadi “dua mulut satu telinga”. Kerja mulutnya berlebihan, sementara kerja telinga dikurangi. Mestinya, kerja mendengar sebaiknya lebih diperbanyak daripada kerja berbicara. Mendengar mengandung manfaat sebagai momentum refleksi akan makna yang didengar. Tentu saja, ini berlaku bagi yang serius mendengar, tidak sekadar mendengar. Apa yang didengarnya akan dipahami dengan baik dan dipertimbangkan secara matang sebelum menarik kesimpulan dan bertindak. Mendengar juga adalah bentuk penghargaan kepada lawan bicara, sehingga dua orang yang berkomunikasi dalam frekuensi yang sama dan saling memahami.

Orang abai untuk mendengar biasanya karena merasa dirinya melebihi orang lain, menganggap isi pembicaraannya lebih penting untuk didengarkan. Dalam sebuah rapat biasanya ada orang yang setelah mengutarakan pendapatnya, ia pun sudah tidak fokus dengan pembicaraan orang lain. Ia sibuk bermain handphone atau berbisik dengan orang di sampingnya. Ini pertanda tidak adanya adab menghargai orang yang sedang berbicara. Kalaupun misalnya isi pembicaraan orang lain kita sudah pahami, setidaknya kita bisa “seolah-olah serius mendengar” demi menjaga perasaan yang berbicara.

Orang juga terkadang lebih suka memberi masukan ataupun kritikan, tetapi ketika dikritik akan merasa gusar. Orang sering cepat memberi respons dan arahan kepada orang yang menceritakan keadaannya, sementara apa yang diceritakan belum selesai. Padahal, orang yang bercerita itu butuh untuk didengar. Boleh jadi mendengarkan ceritanya sudah bagian dari salah satu solusi yang diinginkannya. Ini juga yang sering tidak kita sadari.

Seorang yang alim pun terkadang dihinggapi penyakit “susah mendengar” ini. Senangnya berbicara memberi arahan. Seorang akademisi terkadang maunya menjadi narasumber, tetapi ketika tidak sebagai narasumber ia enggan menghadiri sebuah forum ilmiah. Boleh jadi segelintir muballig juga merasakannya. Ketika muballig lain yang tampil, ia gusar duduk berlama-lama sebagai pendengar. Ada juga orang yang enggan mendengarkan penjelasan dan argumentasi pihak yang berbeda pendapat dengannya, karena fanatik dengan pendapat yang dianut kelompoknya. Sejatinya, ilmu yang sudah diketahui ketika didengarkan kembali akan semakin kuat dan dapat melahirkan inspirasi dan nuansa baru.

Inspirasi dari al-Qur’an yang menyandingkan perintah bertakwa (ittaqu) dengan perintah mendengar (isma’u) dalam beberapa ayatnya adalah sebagai penekanan pentingnya aktivitas mendengar itu. Ia tidak sekadar mendengar tetapi juga bermakna ketaatan melaksanakan (perintah) yang telah didengarkannya. Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita menjadi pendengar (mustami’) yang baik jika belum bisa mencapai taraf seorang penuntut ilmu (muta’allim) terlebih seorang yang berilmu (‘alim). Banyak ulama yang betul-betul alim sengaja menghadiri pengajian yang dibawakan oleh ulama yang lebih muda darinya, karena memang ia hendak mendengar. Mendengar adalah tanda kerendahan hati dan karakter orang berilmu.

Bertutur dan mendengar adalah bagian dari kita. Ada saatnya kita berbicara, ada pula saatnya kita mendengar. Semakin banyak kita mendengar, semakin banyak ilmu yang kita peroleh dan akan semakin bijak dalam bertutur. Semoga bulan Ramadhan ini melatih kita menjadi pendengar yang baik akan ilmu yang bermanfaat.

 

ddi abrad 1