Hikmah Puasa: Membangun Integritas dan Kejujuran

0
240

 

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات والصلاة والسلام على أشرف المخلوقات سيدنا محمد وعلى آله وصحبه السابقين إلى الخيرات.

Berbicara tentang hikmah puasa maka perlu ditelusuri makna hikmah terlebih dahulu. Secara bahasa hikmah adalah kebijaksanaan dan secara istilah adalah nasihat atau pelajaran baik yang diambil dari sebuah peristiwa, kejadian, kisah yang terinspirasi dari sumber-sumber tertentu.

Hikmah adalah pengetahuan tentang berbagai akibat yang timbul dari sebuah perbuatan.

Puasa Ramadhan adalah rukun Islam keempat yang diwajibkan kepada orang yang beriman sebagaimana firman Allah swt dalam Al-baqarah/2 : 183 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemahnya :

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Puasa merupakan perbuatan atau ibadah yang dilakukan dengan menahan dari segala yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa bukan hanya sekedar menjalankan ketaatan kepada perintah Allah swt., namun tujuan utama adalah menggapai ridha, rahmat dan cinta Allah dengan meningkatkan kualitas puasa untuk sampai pada derajat muttaqin (orang yang bertaqwa). Puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus serta berhubungan suami isteri pada siang hari, namun menjaga seluruh anggota tubuh dari segala bentuk kemaksiatan untuk membangun integritas dan kejujuran.

Integritas menjadi pondasi awal dalam belajar Islam. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadis, di mana Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada Arab Baduy yang ingin belajar Islam agar jangan bohong. Karena dengan kejujuran, Arab Baduy akan berpikir berkali-kali saat hendak melakukan maksiat, sebab dia harus menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Orang yang memiliki integritas akan secara konsisten berusaha untuk mengimplementasikan prinsip satunya kata dan perbuatan.

Orang yang memiliki integritas biasanya berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara sehingga perilaku dan tindakannya sesuai dengan apa yang diucapkan. Integritas seseorang senantiasa mendapat ujian yang bentuknya dapat berupa jabatan, wanita, harta, keluarga, uang, sedikit ketakutan, sedikit kelaparan, dan sebagainya. Integritas merupakan sebuah rasa sabar dan syukur. Orang yang berintegritas ketika mendapat ujian akan bersabar dan ketika menerima kebahagian akan bersyukur.

Integritas biasa berkaitan dengan perilaku atau sikap yang menggambarkan diri sendiri. Integritas dibutuhkan oleh setiap individu sebagai bentuk tanggung jawab atas diri.

Adapun ciri-ciri orang memiliki integritas, antara lain:

Orang berintegritas memiliki sikap jujur, tulus, dan dapat dipercaya.

Orang yang memiliki integritas bertindak transparan dan konsisten

Orang berintegritas menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela

Orang yang memiliki integritas bertanggung jawab atas hasil kerja

Orang berintegritas memiliki sikap objektif.

Di sisi lain ada beberapa manfaat integritas. Berikut ini beberapa manfaat integritas :

Manfaat integritas secara fisik:

Integritas dapat membuat seseorang menjadi sehat dan bugar. Dengan keadaan ini seseorang dapat melakukan aktivitas dan pekerjaannya sehari-hari.

Manfaat integritas secara intelektual

Integritas dapat mengoptimalkan kinerja otak seseorang.

Manfaat integritas emosional:

Integritas dapat membuat diri seseorang penuh motivasi, empati, serta rasa solidaritas yang tinggi dalam interaksi bekerja.

Manfaat integritas spiritual: Integritas membuat seseorang menjadi lebih bijaksana dalam mengartikan sesuatu, termasuk pengalaman hidupnya, seperti keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialaminya.

Manfaat integritas social:

Integritas mampu mengembangkan hubungan antar individu maupun lingkungan masyarakat, misalnya membuat seseorang mau bekerjasama untuk menyelesaikan tugas maupun kegiatan yang menuntut kekompakan serta kerjasama yang baik.

Sementara itu, lawan dari integritas adalah hipocricy atau kemunafikan. Sifat ini yang menjadi salah satu penyebab murka Tuhan. Murka dalam hal ini berarti dicabutnya kedamaian dari dalam jiwa manusia, sehingga menjadi kosong, hampa, tersingkir dan sengsara. Murka ini yang secara sadar ingin dihindari oleh manusia. Namun sifat lupa kerap mengaburkan betapa sengsaranya murka Tuhan, sehingga tidak jarang seseorang kembali berkubang dosa dan hidup penuh dengan kemunafikan sesaat setelah terbebas dari masalah. Beruntung Tuhan memiliki sifat kasih sayang yang tidak terhingga. Ini tercermin dari Asmaul Husna (99 Nama-nya), di mana jumlah nama yang mencerminkan kasih sayang lima kali lebih banyak dibandingkan dengan yang bermakna murka.

Ibadah puasa merupakan ibadah yang benar-benar hanya diketahui oleh pelakunya. Hal ini berarti Allah swt melatih hambaNya untuk bersikap jujur melalui pendidikan puasa. Dalam puasa kejujuran menempati posisi sangat penting. Sebab tidak ada orang lain yang mengetahui, selain diri sendiri dan Allah, keberpuasaan seseorang yang sebenarnya. Meskipun, misalnya, ada orang sesungguhnya tidak berpuasa, ia bisa menampakkan diri seperti orang yang sedang berpuasa. Bagi seorang muslim, kejujuran adalah salah satu etika yang sangat penting dan menjadi tolok ukur dalam banyak hal, terutama menjadi penilaian bagi seseorang, apakah layak diberi amanah atau tidak. Dalam konteks kehidupan sosial, sikap dan perilaku jujur juga sangat penting. Sebuah negara akan kacau kalau para pemegang amanah tidak jujur. Rumah tangga juga akan kacau, jika tidak saling jujur.

Dewasa ini, kepercayaan adalah fondasi penting untuk banyak hal. Terutama bagi sendi-sendi kehidupan publik. Bisa dibayangkan betapa kacau kehidupan publik jika orang-orangnya akrab dengan sikap dusta. Mengapa perlu kejujuran? Kejujuran akan menghasilkan kepercayaan. Nabi adalah pribadi yang sangat jujur. Bahkan beliau dipercaya bukan hanya oleh kalangan sahabat yang membelanya, tetapi juga oleh kalangan yang memusuhi sehingga beliau diberi gelar “al-amin” (orang yang terpercaya). Di dalam catatan sejarah, dari beliau kecil hingga wafat, kejujuran beliau punya peran yang sangat penting. Terutama dalam membangun komunitas Islam. Sehingga, Islam yang awalnya hanya kelompok kecil dan minoritas, bisa berkembang dan kuat.

Di dalam Islam, perintah untuk jujur, atau tidak berdusta adalah hal yang sangat ditekankan. Karena dusta adalah pangkal dari kejahatan, sedangkan kejujuran adalah pangkal kebaikan seperti sabda Rasulullah saw :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، ومَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ ويَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وإِيَّاكُمْ والْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، ومَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ ويَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Artinya :

Kalian harus bersikap jujur, karena jujur itu mengajak pada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan kepada surga dan seseorang yang senantiasa bersikap jujur dicatat sebagai orang jujur di sisi Allah swt. Dan hindarilah dusta karena dusta mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan itu mengantarkan kepada neraka. Dan seseorang yang senantiasa berdusta dicatat disisi Allah swt sebagai pendusta. (HR Bukhari Muslim)

Jujur bukan hanya dalam perkataan, tapi juga dalam sikap, perilaku, pemikiran, cara melakukan pekerjaan, dan seterusnya. Dengan saling menjunjung tinggi kejujuran, orang bisa saling percaya. Dan kepercayaan adalah hal penting untuk dirawat. Sekali cidera, tidak akan bisa pulih seperti semula. Sebagaimana gelas yang pecah. Meski diperbaiki dengan sangat rapi, tidak akan kembali seperti semula. Kejujuran adalah etika yang sangat penting. Dari kejujuran akan muncul kepercayaan, di mana kepercayaan adalah hal penting bagi sendi-sendi kehidupan publik dewasa ini. Dan salah satu yang hendak didulang dengan puasa adalah sikap jujur dan perilaku tanpa dusta itu karena sikap dusta merupakan ciri orang munafik, sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw :

أن رسول الله ﷺ قال: آية المنافق ثلاث، إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان

Artinya : Tanda orang munafik ada tiga : jika berbica ia dusta, jika berjanji dia khianat dan jika diberi Amanah dia khianat (tidak dapat dipercaya).

Ibadah puasa yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan membentuk para pelakunya menjadi orang-orang yang bersikap adil, menegakkan kebenaran, dan berlaku jujur dalam segala aspek kehidupannya. Salah satu hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah menumbuhkan sikap jujur, rajin menegakkan keadilan dan kebenaran. Ibadah puasa pada dasarnya memerlukan kejujuran dari setiap orang yang melaksanakannya, baik jujur terhadap dirinya atau terhadap orang lain. Tanpa kejujuran tidak mungkin ada ibadah puasa, karena ibadah itu dilakukan dengan keinsyafan dan tidak ada pengawasan dari manusia lain. Allah s.w.t. memerintahkan kepada ummat Muhammad saw agar menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan sebagaimana disebutkan dalam QS al-Maidah/5 : 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Terjemahnya :

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Sejatinya puasa memiliki makna signifikan untuk meraih kebahagian dan kesuksesan bukan hanya di alam eskatologis, tapi juga dalam kehidupan nyata di dunia saat ini. Puasa dapat mengantarkan seseorang mengalami transformasi diri yang dahsyat menuju kesempurnaan etik-moralitas yang luhur; al-akhlaq al-karimah. Kemuliaan akhlak memang merupakan kunci keberhasilan seseorang. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, semisal James Heckman (peraih Nobel ekonomi tahun 2000 dari Universitas Chicago) dan Paul Tough (mantan editor The New York Times Magazine) menyimpulkan, kunci utama keberhasilan seseorang bukan terletak pada aspek kognitif dan kemampuan inetelektualnya. Justru yang sangat menentukan terletak pada aspek personality traits atau moral character.

Integritas dalam bentuk komitmen, kejujuran dan konsistensi, pengendalian diri, ketabahan, atau sejenisnya merupakan penentu dalam keberhasilan seseorang dalam kehidupannya. Pengembangan kepribadian dengan dasar etik-moralitas luhur tidak cukup sekadar melalui pengajaran semata, tapi harus melalui pengalaman, praktik dan seumpamanya. Integritas kepribadian tidak bisa berlabuh dalam kenyataan hanya melalui penguasaan pengetahuan semata, namun harus melalu pengamalan dan pembiasaan yang terus menerus. Demikian pula sifat atau karakter yang lain. Pada sisi itu, puasa hadir seutuhnya untuk membentuk, meneguhkan dan mengembangkan keluhuran sikap dan perilaku. Puasa identik dengan praksis untuk mengasah nurani, mengarifkan sikap dan perilaku, dan menajamkan spiritualitas yang akan melahirkan kepribadian profetik dan ketakwaan

Kendati puasa merupakan ibadah penuh energi positif yang dapat menjadikan umat Islam untuk hidup dalam keluhuran, tapi realitas di sekitar kita menyuguhkan hal yang lain. Ketika Ramadhan tiba, saat umat Islam berkewajiban melaksanakan puasa, kejahatan dalam berbagai bentuknya tetap marak terjadi di berbagai tempat. Di Indonesia, sebagian besar para pelakunya –sebagaimana dapat ditelusuri dari media massa– adalah muslim yang bukan mustahil sedang melakukan puasa. Dalam ungkapan lain, puasa tidak serta merta membuat seseorang mengalami transformasi diri. Karena itu, kita menyaksikan tidak sedikit, bahkan banyak umat Islam, yang berpuasa –sebagaimana disabdakan Rasulullah (SAW)– tapi tidak bersisa apapun dari puasanya selain hanya lapar dan dahaga.

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له

من قيامه إلا السهر»

Artinya :

Bisa jadi orang berpuasa tidak ada yang didapatkan selain lapar dan bisa jadi orang yang shalat malam yang didapatkan hanya bergadang.

Puasa tidak lebih dari rutinitas yang nyaris tidak berdampak kemaslahatan apa pun bagi yang melakukannnya, apalagi terhadap manusia yang lain. Ada muslim yang berpuasa, sedang pikirannya sarat dengan pandangan yang kotor, pikiran yang jahat, selalu berburuk sangka terhadap orang lain atau, atau hal-hal buruk lainnya yang sebelumnya tertanam dalam dirinya. Sebagian lainnya ada yang berpuasa, namun hatinya tetap diliputi dengan iri dan dengki. Hatinya tetap dipenuhi dengan kemauan untuk melampiaskan keinginan subyektif diri Demikian pula sikap dan perilakunya masih menyisakan persoalan terhadap orang lain, terutama orang-orag di sekitarnya. Bahkan dari umat Islam yang melakukan puasa, terdapat orang yang rajin mengaji, tekun menjalankan solat sunnah atau ibadah lainnya, tapi ia tidak mengalami perubahan signifikan dalam karakter, sikap dan perilakunya. Setiap tahun datang bulan Ramadlan, setiap kali itu pula ia menjalankan puasa dan melakukan ibadah-ibadah sunnah yang sangat beragam, tapi kepribadiannya dari saat ke saat tidak tampak mengarah ke perbaikan yang cukup berarti.

Seseorang berpuasa sekadar tidak makan, minum, atau sejenisnya dan tidak berhubungan intim pada siang hari, sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Niat puasanya juga sekadar untuk menjalankan perintah sang Pencipta dan menjauhi larangan-Nya dengan tujuan mendapat balasan kenikmatan surga dan dijauhkan dari siksaan neraka. Tentu puasa lahir semacam itu tidak salah, tapi semestinya muslim yang ingin mencapai derajat muttaqin (orang yang taqwa) tidak berhenti sebatas itu. Puasa seharusnya bersifat substantif dan dilakukan secara holistik: lahir dan batin. Melalui puasa yang holistik ini, intensi yang ditanamkan dalam hati bukan sekadar didasari atas ketaatan kepada Allah. Lebih dari itu, dilandasi niat untuk menggapai kerelaan dan kecintaan Allah. Meraih cinta dan kerelaan sang Kholik mengharuskan seseorang untuk berkomitmen untuk mengembangkan karakter dan kepribadian luhur: dari kejujuran, kesabaran, pengendalian diri hingga menyebar kedamaian dan keadilan.

Kesabaran dan pengendalian diri juga setali tiga uang dengan kejujuran. Menghadapi rasa haus dahaga dan lapar saat berpuasa, tidak ada jalan lain selain harus menahan diri dan sabar untuk tidak menuruti keinginan yang bersifat biologis tersebut. Tanpa itu, orang yang berpuasa tentu tidak mungkin melanjutkan puasanya. Nilai luhur itu tentu harus selalu ditanamkan dan dikembangkan dalam diri dari saat ke saat dalam kehidupan walaupun bulan puasa telah lewat. Melalui proses internalisasi itu diharapkan timbul rasa empati yang dieksternalisasikan ke dalam kehidupan sosial nyata. Ujung dari semua itu adalah mengentalnya sifat kebersamaan, saling menghormati, dan solidaritas sosial yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk pengembangan kedamaian dan keadilan dalam kehidupan. Kepribadian dan karakter semacam itu akan mengantarkan seseorang kepada kemudahan dalam pengembangan jaringan sosial, dan juga dalam pengembangan aspek-aspek kehidupan yang lain. Pada tataran itu, keberhasilan dan kebahagiaan hakiki akan selalu mengiringi perjalanan hidupnya.

 

وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد