Mengenang 100 Hari Wafatnya Ayahanda Tercinta Prof. KH. Ali Yafie

0
566

Lentera

(Untuk Ayahanda Tercinta)

Seperti lentera yang kehabisan minyak di ujung malam

Diiringi gemerutuk lirih sumbu yg mengering

Nyala api meredup perlahan lalu padam

Menciptakan suasana mencekam

 

Ditengah kerumunan tercekik dilanda kesedihan mendalam

Suara lirih menyebut nama Yang Maha Agung dengan lembut dan intim

Mengiringi kepergiannya menuju keabadian

Kembali ke dalam dekapan Sang Pencipta

 

Dari pangkalnya dia unik terkesan usang

Seperti lentera ditempa tangan cekatan penuh kehangatan dan kasih sayang

Sinarnya lembut menerangi malam panjang

Menembus jendela membentang sejauh mata memandang

Menuntun ke sumber cahaya abadi nan agung

Tanpa menelikung, menyodok, mendakwa, membelenggu ataupun memalang

Tanpa mengenal musim penghujan ataupun musim kering

 

Dia sudah terkubur bertumpuk tertimbun tanah kini

Meninggalkan kesan mendalam dengan kehangatan dan pesan membumi

Memang Tak perlu ada yg disesali

Setiap perjalanan akan berakhir diujung jalan pada satu titik

Semua punya batas dan waktu yang pasti

Tapi kebersamaan hampir tanpa jeda tanpa jera menyertai

Dalam benak membayang terpatri dalam hati

Mendatangkan rasa perih mengiris bersama bayangannya melilit diri

 

Bukannya tanpa cela dan tak tergantikan sekalipun terbukti teruji terpuji

Ini bukan zaman lentera antik yang unik

Ada banyak corong pengganti

Dari yang lembut dengan struktur geometris

Sampai kepada yang menyorong jalang dan galak yang canggih

Bersinar lebih cemerlang menerangi sekarang atau mungkin nanti

Jika tidak membakar diri sendiri

Ditelan gemerlap zaman kusam tak terkendali

Karena tidak tahu diri, tidak tahu menempatkan dan membawa diri.

Bintaro Jaya, 04Juni 2023

Mengenang 100 Hari Wafatnya Ayahanda Tercinta Prof. KH. Ali Yafie

Hilmy Ali Yafie