Mengembalikan Sakralitas Manusia

0
155
Dr. Abdul Mu'id Nawawi
Dr. Abdul Mu'id Nawawi

Dr. H. Abdul Muid Nawawi

Di masa-masa puncak modernitas, alam tidak lagi untuk dipahami, tetapi untuk dikuasai dan dieksploitasi.

Manusia modern adalah manusia yang memanfaatkan alam untuk memuaskan keserakahannya yang tidak pernah kenyang.

Persoalannya, alam adalah tempat tinggal manusia. Merusaknya hanya akan membuat manusia kehilangan tempat hidup dan itu berarti kebinasaan bagi manusia.

Ada masa ketika alam bagi manusia adalah misteri yang menakjubkan, menggugah rasa ingin tahu, dan menyemai keterpesonaan.

Namun, lama-kelamaan keterpesonaan mulai sirna, tinggal rasa ingin tahu. Lalu, rasa ingin tahu pun menghilang berganti rasa sok tahu.

Keterpesonaan hilang karena ternyata alam bisa menjadi alat pemuas keinginan. Keterpesonaan menjadikan manusia segan untuk bertindak sewenang-wenang.

Rasa sok tahu hadir karena alam terasa sudah berada di dalam genggaman. Rasa sok tahu adalah jawaban ketika atas pertanyaan: Manusia sudah mengetahui alam raya dengan baik. Lalu, kini apa? Menguasai, mengendalikan, dan mengeksploitasi.

Bersamaan dengan kenyataan di atas, manusia menciptakan mesin-mesin untuk mengolah alam. Mesin hadir sebagai duta manusia untuk bercengkrama dengan alam.

Manusia pun semakin berjarak dengan alam. Mesin lah kini yang bergaul dengan alam dan menjamahnya. Antara manusia dan alam ada jarak emosional. Saat alam rusak akibat laju industrialisasi, manusia tidak merasa bersalah karena mesin-mesin itulah pelakunya, bukan manusia.

Mengapa semua itu terjadi? Tidak sedikit pakar yang menduga bahwa modernitas telah mendesakralisasi alam. Itulah penyebabnya sehingga begitu mudah manusia memperkosa alam.

Namun, sepertinya ada yang mendahului hal tersebut, yaitu manusia mendesakralisasi dirinya sendiri. Setelah melakukan desakralisasi diri, mudah bagi manusia mendasakralisasi selain dirinya.

Desakralisasi diri manusia dimulai kala manusia semata-mata memandang dirinya sebagai anasir biologis, material, dan jasadi.

Hal-hal semacam spiritualitas dan perasaan dianggap hanya mitos. Manusia tidak ubahnya binatang dan bahkan banyak persamaannya dengan tumbuhan hingga benda-benda mati.

Sebenarnya itu adalah sikap yang merendahkan diri manusia sendiri, tetapi manusia modern tidak memahami itu. Menyamakan antara manusia dengan bintang hingga tumbuhan adalah penistaan terhadap manusia.

Sebagai anasir biologis-material, keinginan, mimpi, imajinasi, dan harapan manusia selalu dipahami terbentur dan dikendalikan oleh hal-hal yang biologis-material.

Ketulusan dianggap tidak ada. Hanya ada pamrih. Kematian bahkan tidak ada. Hanya ada kehidupan. Tuduhan manusia yang sedemikian kepada dirinya sendiri membuat manusia menganggap itu nyata hingga tidak ada lagi kenyataan di luar itu semua.

Setelah mendasakralisasi dirinya, manusia mulai mendesakralisasi selain dirinya, yaitu alam. Bagi manusia, alam tidak lebih sebagai alam material yang berfungsi untuk memuaskan hasrat meterialnya.

Awalnya, desakralisasi alam dilakukan sebagi cara pandang baru terhadap alam raya, yaitu ada rumus baku di balik segala kejadian yang ada. Dengan memahami rumus itu, maka alam bukan lagi misteri. Semua bisa diprediksi dan dikendalikan. Gerak alam tidak lebih dari gerak fisika.

Tidak ada yang salah ketika manusia mendesakralisasi alam karena itu hanyalah konsekuensi logis setelah manusia mendesakralisasi dirinya.

Tidak mungkin sakralitas alam dipahami oleh anasir yang telah menanggalkan sakralitasnya. Hanya yang sakral yang mampu menangkap yang sakral. Yang material hanya mampu berinteraksi dengan yang material.

Setelah desakralisasi alam, perjalanan peradaban sudah dapat ditebak ujungnya: Kehancuran alam dan kebinasaan manusia.

Kehancuran ini sepertinya tidak lagi dapat dihentikan karena lajunya yang tidak semakin lambat, malah semakin cepat, seperti semakin lajunya batu yang menggelinding ke jurang pemahaman

keagamaan yang keliru memiliki andil yang sangat besar hal ini karena cenderung membantu matinya sakralitas manusia dan alam raya.
Bedanya, pemahaman keagamaan yang keliru terlebih dahulu mendesakralisasi alam raya kemudian mendesakralisasi dirinya sendiri.
Awalnya, desakralisasi alam dilakukan sebagai bentuk sakralisasi Tuhan, namun karena manusia juga adalah makhluk sebagaimana alam, maka manusia pun mengalami desakralisasi.
Dampaknya sama dengan modernitas. Alam menjadi rusak. Jika modernitas mendesakralisasi segalanya, termasuk Tuhan, maka pemahaman keagamaan yang keliru mendesakralitasi segalanya untuk meneguhkan sakralitas Tuhan.

Alam raya harus dikembalikan kepada kehormatannya yang awal, yaitu sakral. Namun itu hanya bisa tejadi jika manusia mengembalikan terlebih dahulu sakralitas dirinya sendiri.

Manusia harus menyadari kemuliaannya dengan cara mendefinisikan ulang dirinya sebagai anasir yang tidak semata-mata biologis, tetapi juga spiritual. Ada Ketuhanan di dalam diri manusia.

Ada yang unik dari tanda bahwa manusia memiliki sisi spiritual dan Ketuhanan yaitu bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mendegradasi dirinya menjadi bukan manusia.

Jadi, bukti bahwa manusia memiliki sisi sakralitas Ketuhanan adalah kemampuan dan kebebasan manusia untuk tidak mengakui sisi tersebut.

Tidak ada makhluk yang mampu melakukan hal itu. Binatang tidak mampu menghinakan dirinya menjadi bukan binatang. Tumbuhan pun demikian. Itulah yang dilakukan oleh modernitas.

Cara mengembalikan manusia dan alam kepada kehormatannya adalah manusia dan alam tidak hanya dilihat sebagai fenomena atau sebagai sesuatu yang tampak, namun manusia dan alam secara fisik hanyalah penampakan dari sesuatu yang lebih besar, lebih agung, lebih luhur, lebih intens, dan seterusnya dan itu adalah Tuhan. QS. adz-Dzariyat/51: 20-21:

Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. (Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan?

Ayat lain, yaitu QS. al-Baqarah/2: 114-115 lebih tajam mengkritisi.

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah digunakan sebagai tempat berzikir dan berusaha merobohkannya?

Mereka itu tidak pantas memasukinya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapatkan kehinaan di dunia dan mendapatkan azab yang berat di akhirat.

Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.

Masjid bukan hanya sebuah bangunan yang ditempati shalat Jumat, tetapi seluruh bumi—dan juga seluruh alam raya—adalah masjid dalam arti tempat untuk mengakui eksistensi Tuhan.

Mereka yang merobohkan masjid-masjid adalah peradaban modern karena desakralisasinya terhadap manusia dan alam.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pemahaman keagamaan yang keliru karena demi sakralitasi Tuhan, manusia dan alam didesakralisasi. Istilah Al-Qur’an untuk semua itu adalah “perobohan masjid-masjid.

Tulisan ini disadur dari ibihtafsir.ID