Menghormati Keyakinan yang Lain

0
150

Dr. Salahuddin Sopu

Kalau serius mencintai Islam, yuk, hormati keyakinan lain!

Di banyak kesempatan, Gus Baha kerap mengulang materi soal larangan menghina agama lain.

Beliau barangkali resah dengan pola keberagamaan sebagian dari kita yang gemar mengumbar kebodohan dengan merendahkan agama atau kepercayaan lain.

Padahal, kalau sudah nyaman dengan kebenaran agama kita, sudah asyik dengan keimanan yang kita miliki, buat apa merecoki keimanan yang lain?

Gus Baha menjelaskan bahwa menghina sesembahan orang dari agama atau keyakinan lain juga berpotensi merendahkan agama sendiri.

Sebabnya, penghinaan itu justru membuka kesempatan kepada orang-orang yang dihina untuk balik menghina sesembahan kita, yakni Allah Swt.

Beliau mengutip surah Al An’am: 118 yang berbunyi:

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.”

Ayat di atas turun sebagai respons atas sikap jemawa sebagian sahabat Rasul yang kala itu begitu bangga dengan agama Islam dan tanpa sadar telah merendahkan atau bahkan menghina agama lain.

“Para sahabat itu di masa-masa awal Islam juga ada yang over (berlebihan), mereka bangga dengan agama Islam yang baru mereka peluk.

Karena terlalu bangga, sebagian dari mereka menghina sesembahan orang-orang kafir, bahkan dengan kecaman.

Karena tak tahan dengan makian itu, orang-orang kafir pun membalas dengan menghina Allah Swt.”

Para sahabat itu diceritakan Gus Baha bahkan dengan enteng bilang, “Jancuk (ini bahasa Gus Baha’, yang bermakna penghinaan) Latta, Jancuk Uzza.”

Orang-orang kafir pun bereaksi, “Kalau Tuhan saya jancuk, jancuk juga Tuhan kamu”.

Saat itulah turun ayat di atas. Allah melarang umat Islam menghina Tuhan atau sesembahan dari agama lain.

“Stop, Allah bisa jadi korbannya!” seru Gus Baha.

Gus Baha juga menambahi bahwa Rasul Muhammad mendapat ‘pesan’ khusus tentang ini:

“Wahai Muhammad, kasih tahu umatmu agar tidak menghina berhala orang-orang kafir; korbannya Aku (Allah)”.

Kisah ini beliau nukil dari salah satu karya Sulthanul Auliya, Syaikh Izzudin bin Abdissalam yang menulis bab “Saddu Dzara’i” yang disederhanakan Gus Baha dengan pesan:

“Kalau kamu ingin Allah tidak dipisuhi (dimaki), Islam tidak disakiti; kamu jangan menyakiti agama lain; dan itu adalah bagian dari mencintai Islam.”

Gus Baha secara terang-terangan meminta kita semua untuk menghormati agama lain sebab penghormatan itu adalah bagian dari cara kita menjaga agar agama Islam tidak dimaki dan disakiti.

“Jangan kira menghormati agama lain itu bagian dari ikrar, tidak. Itu bagian dari mencintai Islam”.

Jadi, kalau serius mencintai Islam, yuk, hormati keyakinan lain!