Pertanyaan-pertanyaan Tharekat

0
126

 

 

Wahai hamba-Ku, “Sungguh kemuliaan itu akan pudar, jika menemukan engkau dalam dirimu. Kehinaan itu akan sirna, jika engkau menemukan AKU dalam dirimu.” (Tuangku Muhammad Ali Hanafiah).

 

Adakah Akunya Tuhan itu dalam diri? Jelas ada dong. Bukankah ada firman-Nya, ونفخت فيه من روحي (Aku tiupkan ruh-Ku padanya). Bukankah juga ada firman-Nya, إنا لله وإنا إليه راجعون (Sesungguhnya kami ini milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya, kami akan kembali). dan banyak lagi yang lain…

 

Wahai Hamba-Ku: sembahlah Aku melalui sifat-sifat-Ku yang berkehendak pada dirimu, karena tiada yang pantas menyembah-Ku kecuali telah Kuadakan padanya tanda-tanda “kedekatan” terhadap-Ku, dan tiadalah sesuatu apapun yang dapat mendekati-Ku, kecuali ianya jua datang daripada Zat-Ku. Dan katakanlah, “Ya Allah…, kami datang daripada kuasa-Mu dan tentunya kami kan kembali padamu dengan segala kuasa-Mu jua, maka kembalikanlah sujud dan rukuk kami hanya untuk-Mu dan kepada apa yang Engkau inginkan terhadapnya, karena sesungguhnya kami adalah makhluk yang tiada daya menyembah akan Tuhannya melainkan dengan segala kuasa Tuhan yang disembahnya” (Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah).

 

Meski mirip Hadis Qudsi, tapi ia bukan hadis Qudsi. Ia adalah Kalam Sirr, semacam yang pernah diterima oleh Rumi ketika menuliskan _Kitab Matnawi_ nya,, Ibn Arabi ketika menulis Kitab _Futuhat al-Makkirah_ nya, atau an-Niffari ketika menulis Kitab _Mawaqif wal-Mukhatabat_ nya.

 

Apa dan di mana Aku-Nya Tuhan pada diri kita? Apa sifat-sifat-Nya yang menyembah di diri kita? Pertanyaan seperti ini biasanya muncul dalam dunia Tharekat, yang susah dijawab oleh yang lainnya. Meski setuju, jawaban atas pertanyaan ini, pernah saya diskusikan dengan Buya KH. Husein Muhammad, dan beliau mewanti-wanti saya agar berhati-hati…