AGH. Ali Yafie Designer DDI

0
226
Prof KH Ali Yafie
Prof KH Ali Yafie

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله رب العالمين، وأفضل الصلاة وأتم التسليم على سيدنا محمد ،وعلى آله وصحب أجمعين

Mengenang Anre Gurutta Aliyafi 100 hari berpulangnya ke rahmatullah, kami coba merasakan bukan analisa berfikir, sejauh mana peranan Anre Gurutta sejak awal berdirinya DDI.

Ketika AGH Ambo Dalle memulai aktivitas dakwah dan pendidikannya di Mangkoso sekitar tahun 1930an, DDI masih dikenal dengan Madrasah (Pesantren) Arabiyah Islamiyah
(MAI) sebagai ciri khas pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan ketika itu.

Anre Gurutta Aliyafi diperkenalkan oleh Ayahandanya sendiri kepada AGH Ambo Dalle di Mangkoso. Ayahanda beliau bernama Syaikh Muhammad al-Yafi’iy, beliau bersama sahabatnya Syaikh Abd Raman Firdaus datang berziarah ke Mangkoso sekaligus menitipkan
AG Aliyafi. Sejak itulah beliau diserahi amanah sebagai katib syakhsie (juru tulis pribadi) AGH Ambo Dalle yang selalu mendampinginya ketika mengunjungi cabang-cabang MAI yang telah bertebaran di Sulawesi dan Kalimantan.

Setelah resmi nama DDI menggantikan nama MAI Mangkoso dan cabang-cabangnya, atas usulan Ulama Ahli Sunnah Waljama’ah Sulsel, maka nama AG Aliyafi telah dimasukkan sebagai Wakil Sekretaris yang membantu Ketua Umum, AGH Ambo Dalle di bidang pengurusan dan pengembangan organisasi. AG Aliyafi dikenal di kalangan warga DDI sebagai Pembantu Utama dalam mengurus DDI di peringkat awal berdirinya.

Sebenarnya ada beberapa tokoh DDI yang lebih senior ketika itu, seperti AGH Muh. Abduh Pabbajah, AGH Muh. Amin Nasir, AGH Amberi Said, AGH Abd. Rahman Mattammeng dan AGH Haruna Rasyid tetapi mereka ini lebih meyakini kemampuan AGH Aliyafi dari sudut pengembangan organisasi. AGH Ambo Dalle juga memberi kepercayaan penuh kepadanya dan selalu mendampinginya dalam urusan organisasi DDI.

Ketika Departemen Kehakiman RI
mengajak ormas yang sudah berjalan agar mendaftarkan diri, untuk mendapatkan semacam legalitas yang disebut badan hukum yang sah dari Negara, maka termasuk DDI organisasi
yang terawal mendapat Badan Hukum (1950an) sebagai perkumpulan /organisasi. AGH Aliyafi mengambil alih pengurusan perlengkapan administrasinya dan menterjemahkan AD/ART DDI kedalam Bahasa Indonesia.

AGH Aliyafi dalam pengembangan awal DDI seperti yang dinyatakan di atas, dimulainya sebagai wakil sekretaris, kemudian sekretaris umum dan ketua umum di kepengurusan DDI.

Setelah beliau hijrah ke Jakarta beliau hanya diberi amanah oleh DDI sebagai Pembina karena tugas dan kesibukannya di Jakarta.

Ketika DDI membina perguruan tingginya yaitu Universitas Islam DDI/Jamiah Islamiyah Addariyah akhir 1960an, beliau termasuk Dosen Senior, sesekali datang ke Parepare memberi kuliah umum di Fakultas Usuluddin UI DDI.

Pada waktu yang sama beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin Alauddin Makassar.

Walaupun kedatangan beliau memberi kuliah, sekali atau dua kali saja dalam semester/setengah tahunan, akan tetapi rasanya beliau mencurahkan ilmu yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa.

Beliau mengajarkan Aqidah Islam dan pemikiran kontemporer dengan menggunakan kitab rujukan yang saya masih ingat, yaitu al-Husun al-Hamidiyah tulisan Sayyid Husein bin Muhammad al-Jisr yang terkait dengan ilmu Tauhid mengikut manhaj Imam Abu Hasan al-Asy’ariy.

Beliau sangat menguasai ilmu mantiq/ilmu logika yaitu satu ilmu yang pertama kali diperkenalkan dalam dunia Islam oleh Imam al-Gazali melalui kitabnya Mi’yarul ‘Ilmi.

Sebagaimana dimaklumi bahwa AGH Ambo Dalle telah merumuskan ringkasan kitab ini dengan judul Miftah al-fuhum.

Menurut Anre Gurutta kitab Miftah ini adalah ringkasan pengajian Syaikh Alawi al-Maliki di Masjid Haram dari kitab Mantiq Ghazali.

Pemikiran aqidah AGH Aliyafi jelas tidak dipengaruhi dengan pemikiran yang berkembang di kalangan pembaharu Islam di Indonesia modern.

Beliau konsisten dengan manhaj Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang diwarisi dari guru-guru beliau termasuk di DDI dan NU.

Beberapa siri ceramah beliau yang terkait dengan kehidupan beragama di zaman modern atau era globalisasi yang sering kita dengar. Kalau kita coba baca dan renungkan kitab Syaikh Yusuf Qaradhawi yang berjudul al-Iman wal Hayah nampak ada kemiripan cara menganalisis keadaan masyarakat dan keperluan mempertahankan nilai-nilai agama dalam kehidupan harian.

Saya pernah mengirimkan Anre Gurutta kitab tulisan saya yang berjudul “ al-Ijtihad fie al-Fikr al-Islamiy” melalui Puang Haji Rusdi Ambo Dalle. Ketika kami pulang ke Jakarta menziarahi beliau langsung yang menjadi topik pembicaraan mengenai kitab itu.

Saya merasa Anre Gurutta lebih memahami isi kitab tersebut dari saya sendiri sebagai penulisnya.

Beliau menganggap kitab itu agak aneh dan berbeda dengan kajian ijtihad selama ini, yang selalunya dikaitkan dengan ilmu fikhi/syari’ah, baru kali ini membaca buku kajian Ijtihad yang dikaitkan dengan ilmu berfikir/mantiq.

Beliau tersenyum kelita saya sebut bahwa Puang Ali menguasai kedua ilmu itu dan suka membaca ilmu fikhi dan ilmu berfikir.

Lalu beliau menyambung bahwa membaca itu adalah kehidupan saya sejak muda lagi. Beliau terinspirasi dengan guru-gurunya yang kuat membaca, beliau sebut nama; Syaikh Abd. Rahman Firdaus dan AGH Ambo Dalle.

Puang Ali di masa tuanya sering menasehati warga DDI yang datang berziarah di rumahnya, agar dalam kehidupan sosial;

“kalian janganlah sekedar mau masuk hitungan orang, tetapi jadilah orang yang diperhitungan sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada orang banyak”, “sebaik baik manusia ialah yang banyak memberi manfaat kepada orang ramai”. “Bukanlah orang yang bijak yang selalu bangga dengan pendahulunya tetapi kebijakan dirinya itu menunjukkan betapa hebat orang yang pernah membimbingnya”.

Ketika DDI mengalami masalah dalam organisasi, setelah AGH Ambo Dalle meninggal dunia, dengan usaha gigih dan perjuangan generasi muda DDI yang ditopang oleh tokoh dan ulama DDI yang lainnya, mereka semua bersimpuh dan berharap agar AGH Aliyafi menjadi rais Dewan Masyaikh DDI/Majlis Syuyukh.

Dengan redha dan penuh ketulusan beliau menerima dan bersama-sama tokoh DDI lainnya membangun kembali kecemerlangan DDI dan mengembalikan aurah DDI seperti ketika AGH Ambo Dalle masih hidup.

Atas nasehat beliau diadakanlah tudang sipulung (Multaqa Ulama DDI) di Jakarta tahun 2015 dan Silaturahmi Nasional di Makassar tahun 2017.

Kedua acaca inilah yang menjadi penyemangat dalam membangun kembali DDI atas ikhtiar yang diilhamkan oleh AGH Aliyafi rahimahullah rahmatan wasi’ah.

Sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya masih berwasiat tentang DDI.

“DDI adalah Gurutta dan Gurutta adalah DDI”.

DDI-lah kendaraan kita semua dalam beragama, beradab dan beramal saleh.

Semoga amal ibadah beliau, baik di DDI maupun ditempat lain sepanjang hidupnya tidak pernah berhenti memberi manfaat dan kebaikan kepada agama, bangsa, dan negara.

Sudah tentu kita harap dan berdo’a; Semoga semuanya diterima oleh Allah SWT sebagai amal jariyahnya yang selalu memberi manfaat kepadanya di alam Barzah sampai ke alam akhirat. Amin.. ya Arhama Rahimin.

INNA’ LILLAH WA INNA ILAHI RAJIUN