AGH. As’ad, Petta Soppeng dan AGH. Ambo Dalle

0
272

H.M.Yusuf Andi Dagong Petta Soppeng, raja terakhir dari Kerajaan Soppeng Riaja rupanya tertarik dengan sistem pendidikan yang diadakan oleh Anregurutta Asad di Sengkang.

Ia pun bermaksud mendirikan perguruan yang sama. Hal itu terdorong oleh kenyataan bahwa kondisi beragama rakyatnya kurang menggembirakan.

Ini tercermin dari mesjid yang didirikan dalam wilayah kerajaanya seringkali kosong dari jamaah. Menurutnya, untuk menyemarakkan mesjid maka harus didirikan lembaga pendidikan. Dan, MAI Sengkang lah tumpuan harapannya.

Berdasarkan hasil pertemuannya dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, Petta Soppeng lalu mengirim utusan ke Sengkang dan menjumpai Anregurutta Asad mengutarakan permintaan Arung dan masyarakat Soppeng Riaja.

Rupanya, keinginan tersebut tidak dapat diterima oleh Anregurutta. Beliau tidak menginginkan ada cabang perguruan karena dikuatirkan akan mempengaruhi kualitasnya.

Selain itu, guru yang diminta oleh utusan Soppeng Riaja adalah Gurutta H.Ambo Dalle, murid kesayangan sekaligus asisten dan tulang punggung pesantrennya.

Namun, dengan berprinsip pada falsafah bugis Icauitu gettengnge ri kekkee, Arung Soppeng Riaja tidak berputus asa. Diperintahkannya utusan itu kembali lagi ke Sengkang.

Melihat kegigihan utusan Soppeng Riaja itu, Anregurutta Asad akhirnya luluh juga. Diserahkannya kepada Gurutta Ambo Dalle untuk mengambil keputusan, hal mana diterima baik oleh beliau.

Hari Rabu tanggal 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 M, Gurutta Ambo Dalle memulai babak baru perjuangannya.

Hari itu ia secara resmi meninggalkan Sengkang, hijrah ke Mangkoso bersama istri, kedua orang tua, serta beberapa orang santri seniornya.

Pemerintah kerajaan sudah menyiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan, mulai dari rumah, padi, hingga nafkah bulanannya.

Di Mangkoso, calon santri sudah menunggu sehingga hari itu juga ia langsung memulai pengajian perdana di Masjid Jami Mangkoso.

Pesantren yang baru dibukanya itu diberi nama yang sama dengan pesantren Anregurutta Asad di Sengkang, yaitu Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) meski keduanya tidak ada hubungan organisasi.

Mangkoso adalah tempat yang tenang, penduduknya hidup tenteram. Jangankan perampok atau pencopet, pencuri sekecil apapun tidak pernah ada.

Bahkan, bila ada diantara warga melakukan perbuatan zina, Gurutta langsung diberitahu. Ia lalu menyampaikan kepada masyarakat agar orang tersebut dikeluarkan dari kampung.

Gurutta meminta agar tradisi lama masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memuliakan batu-batu kubur dan pohon-pohon besar segera dihentikan.

Gurutta bahkan memerintahkan agar batu-batu nisan yang telah dibongkar itu dijadikan pondasi jalan agar bisa diinjak oleh masyarakat untuk menunjukkan bahwa batu-batu tersebut tidak punya kekeramatan apa-apa.

Di masa pemerintahan Arung Petta Cowa, ia sangat mempertahankan tradisi tersebut.

Namun sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Petta Coa memerintahkan supaya amalan yang mengandung unsur khurafat itu segera dihentikan.