Membangun Karakter Anak dan Generasi

0
235

Beberapa waktu terakhir di berbagai media sarat dengan berita penganiayaan salah seorang putra pejabat pajak dengan seorang anak putra tokoh banser.

Isu itu pun berbuntut panjang hingga menyeret orang tua yang bersangkutan dan sejumlah pejabat ditjen pajak.

Ironisnya karena para pelaku masih tergolong anak-anak dan remaja.

Tentu ini merupakan sesuatu yang sangat disayangkan karena selain anak pejabat juga perilaku yang dilakukan sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan apalagi nilai-nilai bangsa Indonesia yang dikenal santun, sopan , ramah dan damai.

Perilaku anak sangat-sangat ditentukan oleh kedua orang tua dan lingkungan hidupnya serta pola pendidikan yang diperoleh oleh seorang anak terutama dari kedua orang tuanya.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang hedonis tentu akan berdampak terhadap pola hidup anak itu di kemudian hari artinya seorang anak akan selalu bercermin kepada kedua orang tuanya.

Jika hidup kedua orang tuanya dengan gaya hedonisme maka anak-anaknya juga akan demikian.

Sebaliknya jika pola kehidupan kedua orang tuanya adalah hidup sederhana dan disiplin maka sudah barang tentu karakter anak itu juga akan hidup sederhana.

Karena itu, biasanya seorang ulama, anak-anaknya juga akan menjadi ulama pula. seorang militer atau polisi atau politisi tentu juga akan melahirkan militer, polisi dan politisi, anak presiden biasanya juga akan menjadi presiden dan begitulah selanjutnya.

Begitu juga dalam hal radikalisme dan terorisme jika orang tuanya radikal dan fundamentalis juga pasti anak-anaknya juga akan demikian.

Karena itu dalam teori rekruitmen biasanya seorang teroris menjadi seorang teroris karena hubungan kekeluargaan ayah atau paman atau sepupu atau karena guru atau karena lingkungan sekitarnya.

Semuanya ikut berpengaruh untuk membentuk karakter seorang anak.

Di era modern ini, terutama di era digitalisasi, semua level masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua memiliki akses yang sama ke media sosial.

Sehingga siapapun sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang berkembang di media sosial apakah pengaruh gaya hidup yang hedonis atau gaya hidup kekerasan serta gaya hidup yang ekstrim dan radikal.

Karena itu tidak mengherankan jika kemajuan teknologi ini juga banyak memberi dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat kita sehingga hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita yang tidak menyenangkan mulai dari penganiayaan, pembunuhan, penipuan, pencurian dan berbagai jenis prilaku yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat kita bangsa Indonesia dan umat yang beragama.

Fenomena seperti ini bukan saja memprihatinkan kita tetapi sesungguhnya juga akan menyuburkan paham-paham yang bertentangan dengan ideologi kita bangsa Indonesia seperti terorisme, radikalisme, khilafaisme dan lain-lain.

Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita semuanya bagaimana memperbaiki ekosistim pembinaan masyarakat dan keluarga agar generasi-generasi muda kita tidak terlibat dalam tindakan-tindakan yang anarkis yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya kita.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita di tengah-tengah tantangan ini:

1) Menghadirkan agama sebagai kompas dalam kehidupan

Agama adalah pedoman yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia untuk kebahagaian dunia dan akhirat.

Agama bukan saja mengandung aspek ibadah tetapi juga aspek kehidupan sosial dan kekeluargaan.

Ketika agama hanya dijadikan sebagai petunjuk dalam beribadah saja maka secara tidak langsung kita sudah membatasi peran agama kita sendiri.

Padahal fungsi agama itu adalah bagaimana memastikan bahwa kehidupan setiap orang apakah baik secara pribadi atau keluarga berjalan dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Agama melarang kita menjerumuskan diri ke dalam kehancuran dan kegelapan.

Karena jika seseorang terlibat dalam kehancuran maka fungsinya sebagai manusia tidak akan efektif dan sebaliknya justru harus berhadapan dengan hukum.

2) Mengoptimalkan institusi keluarga sebagai madrasatul ula

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sesungguhnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia apakah dia yahudi atau nasrani atau majusi atau yang lainnya .

Hadis ini menunjukkan bahwa peran orang tua dan keluarga dalam menentukan masa depan anak-anak sangat krusial.

Keluarga yang baik yang mengajarkan nilai-nilai positif terhadap anak-anaknya pasti akan melahirkan anak anak dan generasi yang baik.

Orang-orang kampung yang sangat disipilin membina dan mendorong anak-anaknya menjadi anak yang baik dan sukses umumnya berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik sukses bekerja dan menjadi figur-figur dimanapun mereka berada.

Berbeda dengan kehidupan di kota-kota yang sarat dengan berbagai jenis pengaruh sehingga anak-anak hanya menjadikan rumahnya dan kedua orang tuanya sebagai tempat mengadu dan mendapatkan materi setelah itu mereka berinteraksi dengan orang lain dan memperoleh gaya hidup dan pandangan hidup dari teman-temannya.

Eksistensi institusi keluarga dalam membina anak-anak semakin minim karena umumnya hanya menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah saja.

Padahal sekolah tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus dibantu oleh orang tua murid terutama dalam pembinaan akhlak dan etika .

3) Merevitalisasi budaya-budaya dan tradisi kita

Setiap bangsa di dunia ini memiliki budaya dan tradisi yang berbeda beda.

Kita bangsa Indonesia juga memiliki budaya dan tradisi yang khas yang menjadi ciri khas bangsa dan masyarakat Indonesia.

Meskipun kita di Indonesia terdiri dari berbagai suku dan etnis tetapi sesungguhnya antara satu dengan suku lain memiliki budaya dan tradisi yang mirip meskipun dalam pengungkapannya berbeda.

Orang bugis misalnya memiliki falsafah bahwa kita sama dan harus saling tolong menolong dan saling bantu membantu.

Orang manado misalnya mengatakan kita bersaudara dan orang jawa juga memiliki falsafah yang sama.

4) Penguatan spritualitas
Manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, kedua unsur ini memiliki kebutuhan masing-masing yang harus dipenuhi agar kehidupan kita selalu seimbang.

Jika hanya memenuhi kebutuhan materi saja dan mengabaikan sisi ruhani maka kehidupan kita akan melulu memikirkan materi seakan akan tujuan hidup hanya materi saja sehingga semua kegiatan dan pikiran hanya terfokus pada materi saja.

Bagi orang materialistik segala sesuatu diukur dengan materi, tanpa materi maka sesuatu itu tidak ada artinya, akibatnya melihat dan memandang orang lain hanya dari sisi materinya.

Jika orang berduit pasti akan dihargai di hormati dan sebaliknya jika tidak punya materi tidak akan dihargai.

Di sinilah biasanya permasalahan mulai muncul dalam diri seseorang sehingga hidupnya bisa glamor hura-hura hedonis dan lain-lain sebagainya.

Yang paling parah karena menganggap orang lain tidak ada apa apanya.

Di era sekarang, sisi-sisi spritualitas mulai ditinggalkan dan diabaikan, semua mengejar harta dan kekayaan.

Padahal sesungguhnya apa yang kita kejar itu hanyalah fatamorgana yang tidak ada artinya.

Sebanyak apapun harta yang anda miliki tidak akan membuat anda bahagia dan tenang dan tidak akan membawa anda hingga ke liang lahad.

Sebaliknya orang-orang –orang yang memperhatikan sisi spritualitas pasti akan selalu merasa rendah hati, merasa berkecukupan dengan apa yang dimilikinya dan selalu memandang orang lain sama dengan dirinya.

Fenomena-fenomena yang terjadi selama ini di tengah tengah kita seperti yang saya sebutkan tadi mulai dari kekerasan, penganiayaan, pembunuhan, terorisme, radikalisme, korupsi dan lain-lain sebagainya adalah akibat daripada hilangnya spritualitas dalam diri seseorang.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semuanya terutama bagi masyarakat agama bangsa dan negara yang kita cintai.