Pendekatan Baru dalam Pendidikan

0
171

Gurutta Ambodalle mulai mengajar, dalam bentuk halaqah (mangngaji tudang), pada hari pertama kedatangannya, di Masjid Mangkoso.

Baru beberapa hari kemudian, setelah melakukan seleksi untuk menentukan tingkatan, membuka kelas dalam bentuk MAI.

Mula-mula hanya sekitar 40-60 orang. Tetapi, dari waktu ke waktu, terus berkembang sampai mencapai sekitar 400-500 orang.

MAI Mangkoso tetap mengikuti sistem pendidikan klasikal MAI Sengkang, mengembangkan tiga tingkatan kelas (Tahdiriyah, Ibtidaiyah dan Tsanawiyah).

Tema-tema pendidikan, terutama setelah berjalan lancar, berpusat pada Al Qur’an, Tafsir, Hadist, Tauhid, Fiqih, Ushul Fiqih, Tarekh (sejarah).

Sedangkan Bahasa Arab dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu-sharaf, menjadi dasar pendidikan.

Pelajaran akhlak banyak dikembangkan dalam bentuk praktek yang dituangkan dalam peraturan-peraturan sekolah dan klas, sedangkan da’wah, dalam bentuk praktek yang dilakukan pada hari tertentu.

Tetap ada pengajian (pesantren) yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu; biasanya selesai shalat, Maghrib, Isya dan Subuh, untuk mendalami Tafsir, Hadist, Tauhid, Fiqih, Ushul Fiqih dan Bahasa Arab, di Masjid Mangkoso (sekarang).

Selain mengembangkan MAI, Gurutta juga secara khusus membina Jami’atul Huffadz, dalam arti mempunyai system dan pembina sendiri.

MAI Mangkoso, di bawah kepemimpinan Gurutta Ambodalle, dibantu murid-muridnya yang menyertainya dari Sengkang, dalam waktu relatif singkat berkembang pesat, menjadi populer, melampaui MAI Sengkang.

Murid-murid Gurutta Ambodalle yang ikut pindah ke Mangkoso, dari Sengkang, antara lain adalah: KH. Amin Nashir, KH. Harunarrasyid, KH. Abdul Kadir Khalid, KH. Abd. Hanan, KH. Zainudin, KH. Aqib Siangka, KH. Amberi Said, KH. Haddad, KH. Abd. Rahman Matammang, dan lain-lain.

Murid-murid berdatangan dari berbagai daerah. Bahkan ada yang berasal dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat (waktu itu masih bagian dari Sulawesi Salatan), Kalimantan dan Sumatera (Riau dan Jambi).

Dalam hal pengelolaan pendidikan terjadi pembagian tugas antara Gurutta dan Raja Soppeng.

Gurutta sepenuhnya bertanggung jawab dalam urusan pendidikan, sedangkan urusan logistik sepenuhnyanya adalah tanggung jawab Raja Soppeng, H. Andi Muhammad Yusuf Andi Dagong.

Ada sesuatu yang tampak baru dikembangkan oleh Gurutta Ambodalle.

Bermula adanya permintaan dari berbagai daerah agar dikirimi muballig dan penghafal al-Qur’an untuk menjadi imam, terutama imam taraweh selama bulan Ramadlan.

Tampaknya itu memberikan inspirasi kepada masyarakat setempat.

Mereka menginginkan adanya sekolah-sekolah sejenis MAI Mangkoso di daerahnya.

Setelah MAI Mangkoso menghasilkan lulusan yang mumpuni, setelah berjalan kurang lebih dua tiga tahun, mulailah muncul permintaan dari berbagai daerah agar dibantu membangun pendidikan sejenis MAI di daerahnya.

Permintaan itu mendapat respon dari Gurutta Ambodalle, dengan catatan bahwa masyarakat setempat membuat (fisik) sekolahnya dan Mangkoso menyediakan guru-guru dan kurikulum.

Dengan kata lain masyarakat setempatlah yang membangun dan membiayai sekolah-sekolah tersebut.

Dengan kesepakatan seperti itu mulailah Gurutta mengirim guru-guru ke daerah-daerah, secara bergantian, sampai sekolah di tempat itu berdiri.

Bahkan ketika permintaan semakin banyak, Gurutta juga mengirim santri yang masih duduk di kelas setingkat Tsanawiyah.

Muncullah kemudian sekolah-sekolah MAI, atau semacam MAI, yang juga dikenal dengan nama sekolah Arab, di-berbagai daerah, yang menjadi bagian dari MAI Mangkoso.

Untuk mengatur pengiriman dan pertukaran guru-guru yang bertugas mengajar di luar dan di Mangkoso, diadakanlah pertemuan rutin, setiap akhir tahun ajaran.

Pertemuan itu diselenggarakan bersamaan dengan penyerahan ijazah bagi santri yang telah menyelesaikan pendidikan di kelas Tsanawiyah.

Perkembangan baru lainnya adalah, pada tahun 1942, dibuka kelas Aliyah untuk menampung santri yang tamat di tingkat Tsanawiyah, yang ingin melanjutkan pendidikannya.

Pada saat yang sama juga di buka kelas khusus untuk anak perempuan, dan untuk kepentingan itu didatangkanlah Hj. Hafsah dari Rappang.

Ini adalah sesuatu yang baru, yang belum dikenal sebelumnya.

Pendidikan pun tumbuh dan menyebar di berbagai daerah, secara serempak.

Tidak seperti sebelumnya, terbatas di beberapa tempat saja, terutama dipusat-pusat kerajaan.

Pada hal itu adalah masa-masa sulit, karena Indonesia masih berada di bawah penjajahan.

Masa penjajahan Belanda; kemudian, diselingi dengan Jepang, tahun 1942-1945.

Belanda kembali masuk dengan membonceng sekutu, setelah Jepang kalah Perang, dengan pendekatan sepenuhnya militer, sampai sekitar tahun 1948-1949.

Penjajah, bangsa manapun, baik Belanda maupun Jepang, tidak mau melihat anak-anak negeri jajahannya menjadi pintar, apalagi kritis.

Maka mereka mengawasi penyelenggaraan pendidikan itu dengan sangat ketat, tidak hanya di daerah tetapi juga di pusat-pusat pendidikan, seperti Mangkoso.