Pesantren DDI Ujung Lare Pare-Pare

0
479
Pandangan keagamaan dan kebangsaan DDI

Sekitar tahun 1950, AGH Ambo Dalle berhijrah ke Parepare dari Mangkoso setelah memenuhi panggilan Petta Mallusetasi sebagai Qadi Parepare.

Awalnya beliau berulang-alik dari Mangkoso ke Parepare dengan menggunakan sepeda yang dipandu oleh Gurutta H Abdullah Giling.

Namun keadaan ini menyusahkan Anre Gurutta dan akhirnya beliau pindah langsung ke Parepare.

Dan rumahnya sudah pun dibangunkan di kawasan Ujung Baru.

AGH Ambo Dalle membangun lagi madrasah DDI di samping Mesjid Raya Parepare yang dikenal ketika itu “Perguruan DDI Parepare”.

Diawali dengan santri yang berada di Parepare dan sekitarnya dan akhirnya tidak sampai dua tahun perguruan DDI Parepare menjadi terkenal seperti juga di Mangkoso.

Sehingga Perguruan DDI Parepare yang dipimpin langsung oleh Anre Gurutta telah ramai dikunjungi oleh pejabat pemerintahan pusat dari Jakarta.

Termasuk ulama dan tokoh Agama dari pusat seperti Prof Abu Bakar Aceh, Prof Mahmud Yunus, KH Sirajuddin Abbas dan lain-lain.

Mereka datang untuk melihat perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.

Perguruan DDI Parepare menjadi pusat organisasi DDI juga mengikuti dimana AGH Ambo Dalle berkedudukan.

Perguruan DDI Mangkoso ketika itu dipimpin oleh AGH Amberi Said, dari sudut organisasi menjadi cabang DDI,walaupun kemajuan perguruan Mangkoso hampir sama juga dengan Parepare.

Maka terkenallah di kalangan warga DDI yang ingin belajar di DDI, bahwa berkah DDI ada di Mangkoso sebagai tempat kelahirannya, sedangkan di Parepare ada keberkatan AGH Ambo Dalle yang baru berpindah dari Mangkoso.

Para santri yang berdatangan dari luar Sulawesi ada yang ke Mangkoso dan yang ramai ke Parepare karena mereka ingin keberkahan langsung dari AGH Ambo Dalle yang dikenali sebagai ‘Mudir ‘Am” DDI atau pendiri utama Darud Da’wah Wal-Irsyad.

Beberapa tahun kemudian melihat perkembangan perguruan DDI Parepare semakin pesat, maka AGH Ambo Dalle memulai berikhtiar untuk mendirikan Perguruan Tinggi DDI dan beliau langsung membentuk Panitia Persiapan Pendirian Universitas DDI di Parepare.

Panitianya di tingkat nasional adalah tokoh dan ulama dari DDI dan diluar DDI termasuk tokoh yang disebut namanya di atas.

Anre Gurutta sangat optimis untuk memulai pendirian perguruan Tinggi di DDI, sebagai yang pertama di Sulawesi Selatan.

Waktu itu IAIN dan UMI belum lagi wujud.

Hampir saja DDI memiliki perguruan tinggi terawal di Sulawesi Selatan ketika itu.

Namun prakarsa ini tertangguh, ketika AGH Ambo Dalle diculik di tengah jalan menuju kota Makassar.

Tujuannya ke Makassar untuk menyampaikan rencana pendirian perguruan tinggi DDI kepada Gubenur Sulawesi selatan.

Di samping ingin mengirimkan biaya keuangan kepada AGH Abdul Qadir Khalid, MA. yang sedang belajar di Mesir.

Anre Gurutta di culik di daerah Maros oleh anak buah Kahar Muzakkar, yang mengakibatkan beliau ikut masuk hutan dan ditahan selama bertahun-tahun.

Perguruan DDI Mangkoso, alhamdulillah tiada masalah karena AGH Amberi Said dapat membina DDI dengan baik dan maju, DDI Parepare juga masih bisa terus berjalan dengan baik walaupun AGH Ambo Dalle telah masuk hutan.

AGH Haruna Rasyid dan AGH Yusuf Hamzah mengambil alih kepemimpinan perguruan DDI Parepare dan AGH Abduh Pabbajah bersama AGH Aliyafi memimpin organisasi DDI.

Mereka berdua silih berganti menjadi ketua umum PB DDI.

Pada waktu inilah permintaan pendaftaran ormas Islam dari Departemen Kehakiman RI untuk mendapatkan legalitas resmi yang disebut Badan Hukum Perkumpulan.

DDI termasuk organisasi yang terawal mendapatkan legalitas ormas Islam ini.

DDI ketika itu, walaupun bersedih atas musibah yang menimpa dengan ketiadaan AGH Ambo Dalle di Parepare.

Akan tetapi tokoh dan ulama DDI yang lain masih solid dan tetap tulus ikhlas meneruskan perjuangan yang telah dirintis bersama Anre Gurutta.

Ketiadaan AGH Ambo Dalle justru memberi motivasi yang kuat untuk meneruskan perjuangan DDI dalam mengembangkan misi dakwah dan pendidikan.

Sehingga pembukaan cabang-cabang madrasah DDI tetap berjalan.

AGH Amin Nasir di Jakarta menjadi perwakilan DDI di pusat banyak membantu pengembangan madrasah DDI di daerah daerah.

Atas usaha beliaulah sehingga pembangunan Kampus DDI Ujung lare Parepare dapat dibangunkan dengan megahnya waktu itu.

Setelah AGH Ambo Dalle kembali ke Parepare awal tahun 1963-an, beliau kembali aktif mempromosikan perguruan DDI Parepare.

Walaupun AGH Amberi Said mengajak istirahat dulu di Mangkoso, namun Anre Gurutta tanpa mengenal lelah beliau bermusyawarah dengan tokoh DDI di Parepare dan menetapkan kepemimpinan DDI baik organisasi maupun perguruan atau perantren kembali kepada Anre Gurutta.

Mereka sepakat bahwa selama Anre Gurutta masih hidup maka DDI adalah miliknya;

“DDI adalah Gurutta dan Gurutta adalah DDI”.

Kemudian statemen ini dimaknai oleh Anre Gurutta sendiri bahwa:

“Anukku Anunna DDI, Anunna DDI Tania Anukku”.

Maka Anre Gurutta secara muwafaqah ditetapkan sebagai Pendiri Utama Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) yang lahir di Mangkoso pada tahun 1938.

Dan nama DDI sendiri adalah nama yang disepakati oleh ulama Ahli Sunnah Waljama’ah Sulawesi Selatan pada tahun 1947.

Nama DDI itu diusulkan oleh Syaikh Abd Rahman Firdaus, ulama dari Parepare, guru dan pembimbing AGH Aliyafi.

Nama Darud Da’wah Wal-Irsyad adalah sama dengan nama madrasah yang pernah ditempati belajar Syaikh Firdaus bersama Syaikh Basyuni Imran (ulama Sambas) di Mesir, yang dipimpin oleh Syaikh Sayyid Rasyid Ridha, sahabat Syaikh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Afghani awal abad ke 20.

Namum warga DDI perlu faham bahwa tiada keterkaitan DDI yang dibangun Anre Gurutta dan DDI yang yang pernah dipimpin oleh Syaikh Rasyid Ridha.

Hanya saja Gurutta Ambo Dalle memberi nama anak bungsunya Muhammad Rasyid Ridha, dan Gurutta Amberi Said juga menamakan salah seorang anaknya Ahmad Rasyid (Ridha), wallahu a’lam.

Perguruan DDI Parepare dipindahkan ke pinggir kota, yaitu Ujung Baru khusus santri perempuan dan Ujung Lare khusus untuk santri lelaki.

Beberapa tahun berjalan dengan pesatnya akhirnya Anre Gurutta memindahkan juga santri perempuannya ke Ujung Lare.

Sehingga terkenallah nama “Pesantren DDI Ujung Lare Parepare” sebagai pusat pendidikan dan organisasi DDI.

Sebenarnya perpindahan ini disebabkan karena Ujung Baru ketika itu ditempati juga SPIAIN dan IAIN Alauddin (Tarbiyah) Cabang Parepare.

Pada waktu itu juga Anre Gurutta meresmikan berdirinya Universitas Islam DDI atau Jamia’ah Islamiyah Addariyah dengan diawali tiga fakultas;

1. Fakultas Usuluddin di Parepare,

2. Fakultas Syari’ah di Mangkoso, dan

3. FakultasTarbiyah di Pinrang.

Ini adalah realisasi rencana awal tahun 1950an.

Tidak lama kemudian terbentuk pula “Hai’atu Takaful”.

Semacam forum kerjasama 4 (empat) pondok pesantren yang pimpinannya adalah alumni Madrasah ‘Arabiyah Islamiyah Sengkang pimpinan AGH Muhammad As’ad al-Bugisy.

Mereka sepakat mendidrikan ‘Ma’had ‘Ali Li Dirasat al-Islamiyah, semacam pengkaderan ulama yang nantinya akan menghasilkan ulama muda (al-‘alim al Nami) yang waktu itu diberi gelar Kiyai Muda.

Keempat pondok pesantren yang dimaksud ialah:

1. Pesantren DDI Parepare (AGH Ambo Dalle),

2. Pesantren As’adiyah Sengkang (AGH Yunus Maratan),

3. Pesantren al-Hadits Bone (AGH Junaid Sulaiman), dan

4. Pesantren al-Tarbiyah Soppeng (AGH Daud Ismail).

AGH Muhd Abduh Pabbajah di Parepare disepakati menjadi Katib ‘Am untuk Ma’had ‘Ali dan aktivitasnya berpusat di Parepare.

Karena Ketua Umumnya (AGH Ambo Dalle) dan Katib ‘Am ada di Parepare.

Perlu juga disebut bahwa di kota Parepare saja sedang bermunculan madrasah-madsarah DDI dan Diniyah DDI di setiap Mesjid sehingga kota Parepare dikenal ketika itu sebagai:

“Kota Santri, kota DDI”.

Di Ujung Lare sendiri santrinya mencapai ribuan yang berasal dari seluruh nusantara; Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Ambon.

Waktu itu Irian Barat/Papua dan Timor Timur belum termasuk.

Anre Gurutta membuat misalan tentang kedudukan Parepare sebagai Pusat DDI.

Diibaratkan Periuk yang memiliki tiga tungku yang kuat yaitu Barru, Pinrang dan Sidrap.

Di tahun 1970an ada dua orang pembantu Anre Gurutta yang kami anggap cemerlang dalam menguruskan organisasi DDI.

Gurutta Abd Rasyid Rauf (Barru) dan Gurutta Muiz Kabri (Pinrang).

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa diawal terbentuknya DDI, AGH Pabbajah dan AGH Aliyafi yang memulai garis haluan organisasi DDI yang menggarisbawahi trilogi DDI (Dakwah, Pendidikan dan Usaha Sosial).

Setelah di tahun 1970-an era organisasi modern, maka kemampuan dua sekjen DDI yang disebut itu adalah cukup handal menangani tantangan zaman organisasi.

Sehinggalah DDI yang kita lihat sekarang ini dapat bertahan tidak ditelan zaman, dapat berpacu mengarungi era globalisasi dan masyarakat 5.0 sekarang ini.

Pesantren DDI Ujung Lare Parepare kini di Pimpin oleh AGH Abd Rahim Arsyad bersama tokoh DDI yang lain mengarungi bahtera kemajuan DDI Parepare.

Wabillahi Taufiq wa Da’wah wal Irsyad